Masa Depan Sungguh Ada

Posted On Agustus 24, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

(Amsal 23:17-18)
Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.


Kita telah ada di tahun yang penuh dengan tanda tanya besar bagi setiap orang, entah anak kecil maupun mereka yang telah dewasa tentang kehidupan. Banyak orang meramalkan dan menafsirkan hal-hal yang akan terjadi di tahun ini. Salah satu misteri bagi manusia adalah ketidakpastian akan masa depan. Dari dahulu sampai sekarang manusia sering bertanya-tanya tentang masa depannya, sehingga dalam kegelisahannya berusaha menanyakan nasib masa depan mereka kepada ‘orang pintar’ atau ahli peneliti bintang-bintang di langit, hari, dan bulan. Singkatnya, kuatir membuat manusia cenderung mengandalkan kekuatan orang lain dan dirinya sendiri untuk mendapat kepastian masa depan.

Sebelum Musa menggembalakan bangsa pilihan Allah, maka Musa harus menanti selama 40 tahun ada di padang belantara dengan menggembalakan kambing domba. Suatu penantian yang panjang untuk melihat masa depan yang cemerlang. Demikian juga yang dialami oleh Yusuf. Ia melewati penantian yang panjang untuk menggapai masa depan yang penuh  harapan. Bahkan Yusuf harus mengalami berbagai rintangan yang tidak mudah dilalui. Kepastian pada akhirnya ada dalam genggaman tangan Tuhan, dan jalan masa depan adalah hidup takut akan Dia serta mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Tangan manusia sesungguhnya tidak sanggup menggenggam masa depan, karena hanya tangan Tuhan yang sanggup melakukannya.

Mungkin saat ini Anda sedang  merasa galau akan masa depan, atau menjadi ragu tentang masa depan. Ingatlah firman Tuhan ini: “Masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang”. Tuhan menjamin masa depan kita. Namun hal yang kita harus lakukan adalah tetap hidup takut akan Tuhan dan tidak iri hati terhadap orang berdosa yang kelihatannya hidup mereka lebih baik. Lakukanlah semua yang menjadi bagian kita dan Tuhan akan melakukan apa yang menjadi bagian-Nya, sehingga masa depan yang penuh harapan dan harapan yang pasti telah menanti karena itu milik kita. Kalaupun kita harus melewati masa penantian, tetap genggam harapan di dalam Tuhan sebab masa itu pasti akan tiba sesuai dengan ketentuan Tuhan. (aa)

DOA: “Terima kasih, Tuhan, untuk jaminan masa depanku. Dalam masa penantian ini berikanku kekuatan untuk melakukan semua yang menjadi bagianku sesuai kehendak-Mu. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘require’, ‘GTM-57TPRBZ’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

.async-hide { opacity: 0 !important}
(function(a,s,y,n,c,h,i,d,e){s.className+=’ ‘+y;h.start=1*new Date;
h.end=i=function(){s.className=s.className.replace(RegExp(‘ ?’+y),”)};
(a[n]=a[n]||[]).hide=h;setTimeout(function(){i();h.end=null},c);h.timeout=c;
})(window,document.documentElement,’async-hide’,’dataLayer’,4000,
{‘GTM-57TPRBZ’:true});

from Blogger http://bit.ly/2vZlrID

Di Bawah Kendali Allah

Posted On Agustus 23, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Mazmur 37:23
TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. ()

Pernahkah di saat malam hari Anda memperhatikan langit serta bulan dan bintang yang ada di sana? Pernahkah Anda bayangkan, apa yang akan terjadi jika benda-benda langit itu tidak dikendalikan secara ilahi? Bintang-bintang akan saling berbenturan dan berjatuhan menimpa bumi. Planet berputar tanpa kendali dengan kecepatan tinggi.

Namun, kita patut bersyukur, karena Allah telah mengaturnya sedemikian rupa. Pemazmur menuliskan, “Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang terang!” Alasannya, “… sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta. Dan mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar.” (Mazmur 148:3,5-6).

Allah kita adalah Allah yang teratur, bukan kacau. Setiap malam bintang yang sama selalu berada di tempatnya yang tepat di alam semesta. Siang dan malam selalu sesuai jadwal. Gravitasi yang Allah atur membuat planet-planet berputar secara sempurna mengelilingi matahari.

Tentu kita semua sangat berharap untuk dapat hidup dengan keteraturan yang seperti itu bukan? Dan memang demikianlah kehendak Tuhan atas hidup manusia ciptaan-Nya.Tetapi harus diakui bahwa begitu banyak dari orang Kristen yang hidupnya masih kacau. Berusaha untuk hidup baik, tetapi selalu mendapatkan yang buruk. Berusaha untuk mengatur pengeluaran tetapi selalu saja kekurangan. Hidup seperti dikejar dan penuh beban berat.

Saudara, ingatlah selalu bahwa Allah yang menjaga keteraturan alam semesta, Dia juga pasti akan memberi keteraturan dalam hidup kita. Firman Allah mengatakan, “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya.”  Dia yang akan menetapkan dan mengendalikan hidup kita sehingga menjadi teratur.

Tetapi ada rahasianya, hiduplah berkenan kepada-Nya. Maksudnya, Allah mengatur hidup manusia dan sebagai orang percaya harus mengikuti ketetapan-Nya karena aturan Allah tidak bisa dilanggar. Lakukan bagian kita dan Allah akan melakukan bagian-Nya. Hidup yang teratur adalah hidup yang berada di bawah kendali Allah sepenuhnya. (se)

DOA: “Bapa, aku bersyukur karena hidupku sepenuhnya ada di bawah kendali-Mu. Ajarlah aku untuk hidup berkenan kepada-Mu. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘require’, ‘GTM-57TPRBZ’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

.async-hide { opacity: 0 !important}
(function(a,s,y,n,c,h,i,d,e){s.className+=’ ‘+y;h.start=1*new Date;
h.end=i=function(){s.className=s.className.replace(RegExp(‘ ?’+y),”)};
(a[n]=a[n]||[]).hide=h;setTimeout(function(){i();h.end=null},c);h.timeout=c;
})(window,document.documentElement,’async-hide’,’dataLayer’,4000,
{‘GTM-57TPRBZ’:true});

from Blogger http://bit.ly/2w1GFUZ

Membina Relasi yang Baik

Posted On Agustus 22, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

2 Korintus 1:12
… bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah.

Pada umumnya manusia hidup dalam suatu komunitas tertentu yang sesuai dengan pilihan hatinya, yaitu di mana ia dapat merasakan adanya kenyamanan dan keakraban dalam komunitas tersebut. Namun, tidak dapat disangkal bahwa hubungan satu dengan lainnya dapat menjadi retak atau terputus sama sekali karena berbagai sebab. Salah satu sebabnya adalah karena adanya sifat atau sikap kita yang tidak benar.

Hal itu juga terjadi dalam gereja mula-mula, seperti yang terdapat di kota Korintus.
Rasul Paulus mengemukakan sebuah pernyataan yang patut kita teladani, supaya hubungan satu dengan lainnya dapat berjalan dengan baik yaitu: Pertama, adanya ketulusan dan kemurnian dari Allah. Membina relasi dengan tulus dan murni bukanlah perkara yang mudah dilakukan. Hal ini disebabkan karena sifat kita yang berdosa, yaitu karena kita masih dikuasai oleh keinginan jasmani. Untuk itu kita harus rela mengenakan ukuran Kristus.

Sebagai contoh adalah masih terdapat sifat egois, mencari keuntungan diri sendiri, keserakahan, kesombongan dan merasa diri lebih utama dari yang lain. Contoh lainnya, jika kita masih memakai hikmat duniawi, yaitu norma dunia yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Misalnya ketika merasa dirugikan atau tersinggung ucapan sesama, bila perlu melakukan kekerasan sebagai balasan atau menempuh jalur hukum. Hal-hal ini dapat menjadi duri dan
onak yang mengganggu dan menghancurkan relasi satu dengan yang lainnya.

Hal berikut yang diperlukan adalah memiliki kasih karunia Allah. Dengan kasih karunia, kita akan mudah untuk memaafkan atau mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Dalam Matius 18:21-35, Yesus mengajarkan tentang arti pengampunan. Walaupun hal itu tidak mudah, bukan berarti tidak dapat dilakukan. Kita harus dapat meninggalkan cara dan norma-norma dunia dalam menyelesaikan konflik di antara sesama kita. Oleh sebab itu, mari kita bina relasi yang baik dengan sesama kita, sesuai dengan yang Tuhan kehendaki, yaitu dalam ketulusan, kemurnian dan dengan kasih karunia Allah yang kita telah terima daripada-Nya. (phm)

DOA : “Tolongku,Tuhan, agar dapat membina relasi dengan baik sesuai dengan kehendak-Mu, yaitu dalam ketulusan, kemurnian dan dalam kasih. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘require’, ‘GTM-57TPRBZ’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

.async-hide { opacity: 0 !important}
(function(a,s,y,n,c,h,i,d,e){s.className+=’ ‘+y;h.start=1*new Date;
h.end=i=function(){s.className=s.className.replace(RegExp(‘ ?’+y),”)};
(a[n]=a[n]||[]).hide=h;setTimeout(function(){i();h.end=null},c);h.timeout=c;
})(window,document.documentElement,’async-hide’,’dataLayer’,4000,
{‘GTM-57TPRBZ’:true});

from Blogger http://bit.ly/2vT6SGv

Dimulai Dari Hati

Posted On Agustus 21, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

(Yohanes 13:2)
Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.

Kita pasti pernah mendengar nasihat ini: “Kembali kepada hati nurani masing-masing saja.” Nasihat yang kelihatan bijak ini seolah-olah menempatkan hati nurani sebagai sesuatu yang suci dan tak bisa dinodai sehingga produk-produk yang keluar darinya adalah kebenaran semata. Benarkah demikian? Jawabnya tentu saja tidak benar. Hati nurani dapat dikotori oleh dosa.
Yudas Iskariot memang adalah pribadi yang tamak akan uang. Tetapi kisah pengkhianatannya bukan karena ketamakannya. Ketamakan hanyalah jalan masuk iblis untuk menjerat Yudas. Pengkhianatan Yudas dimulai dari hati.

Perhatikan ayat mas kita. Kata ‘telah’ di sana tepat seperti bahasa aslinya menunjukkan sebuah peristiwa yang terjadi sebelum peristiwa makan bersama tersebut. Sebelum peristiwa Yesus makan bersama semua murid-Nya, Yudas telah membiarkan iblis meracuni hatinya dengan rencana jahat. Akibatnya Yudas mengkhianati Yesus. Itulah sebabnya Alkitab menasihati kita: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23) Tetapi bila kita buka lebar-lebar hati kita dan mengizinkan semua hal masuk, kita pun dapat terjerat seperti Yudas.

Pintu masuk ke dalam hati manusia adalah pikiran. Pikiran adalah tempat di mana informasi yang masuk diolah berdasarkan pengetahuan, fakta dan pengalaman yang tersimpan dalam ingatan kita. Kemudian hati menimbang-nimbang dan memberi nilai kepada informasi itu benar atau salah, lalu memutuskan untuk melakukannya atau tidak.

Bayangkan, betapa mengerikannya orang yang tidak lahir baru, yang tidak mengalami pembaharuan budi (Titus 3:5; Roma 12:2) dan yang tidak memiliki Roh Allah yang sanggup memimpin orang kepada seluruh kebenaran Allah (Yohanes 16:13). Dapat dipastikan produk hatinya adalah kebenaran manusia belaka atau bahkan keputusan celaka sama seperti Yudas. Jadi agar semua rencana kita berkenan kepada Allah dan dapat terlaksana baik, jaga pintu masuk hati kita yaitu pikiran kita, izinkan hanya firman Tuhan dan semua hal yang berkenan kepada Allah yang boleh masuk dan tinggal dalam pikiran kita.(tw)

DOA: “Biarlah firman-Mu menguasai pikiranku senantiasa,  agar semua rencanaku berkenan kepada-Mu. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘require’, ‘GTM-57TPRBZ’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

.async-hide { opacity: 0 !important}
(function(a,s,y,n,c,h,i,d,e){s.className+=’ ‘+y;h.start=1*new Date;
h.end=i=function(){s.className=s.className.replace(RegExp(‘ ?’+y),”)};
(a[n]=a[n]||[]).hide=h;setTimeout(function(){i();h.end=null},c);h.timeout=c;
})(window,document.documentElement,’async-hide’,’dataLayer’,4000,
{‘GTM-57TPRBZ’:true});

from Blogger http://bit.ly/2wg5bnK

Memperbudak Diri

Posted On Agustus 20, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

(Amsal 14:22)
Tidak sesatkah orang yang merencanakan kejahatan? Tetapi yang merencanakan hal yang baik memperoleh kasih dan setia.

Orangtua yang menghendaki masa depan yang baik bagi anak-anaknya, akan memikirkan cara menyiapkan, memotivasi dan membawa anaknya menuju masa depan. Anak-anak yang ingin membahagiakan orangtua pasti membuat perencanaan untuk mewujudkan impiannya. Bahkan untuk kematian pun, manusia membuat suatu rencana. Misalnya, mengenai cara pemakaman dan tempat dikuburkan.  Tanpa perencanaan, kegagalan akan mewarnai usaha manusia (Amsal 24:6), karenanya setiap orang harus punya planning hidup.

Satu hal yang harus kita camkan dalam membuat perencanaan, jangan lupakan Tuhan dalam perencanaan kita. Jika kita mengingat Tuhan setiap kali membuat suatu rencana, tentu kita mempertimbangkan kehendak Tuhan di dalamnya. Kalau pun tidak, dalam arti karena kita tahu yang kita rancangkan tak berkenan kepada Tuhan, mungkin usaha kita berhasil. Tapi jangan lupa, upah perbuatan kita pasti akan menyertai hidup kita sesuai waktu Tuhan.

Raja Ahab mendapatkan impiannya akan lahan yang subur. Tragis, didapat melalui tindakan keji dari isterinya bernama Izebel. Ia merencanakan kejahatan terhadap Nabot pemilik tanah pusaka leluhurnya.

Izebel menyusun strategi yang sangat rapi dengan membuat surat atas nama Ahab sebagai penguasa, menyuruh rakyat berkumpul berpuasa dan Nabot harus duduk paling depan. Sebab, ia telah menyiapkan saksi dusta yang akan ‘mendakwa’ Nabot sehingga orang yang tidak bersalah ini mati dilempari batu sesuai arahan Izebel. Mereka berhasil tapi hukuman Tuhan menimpa keluarga raja (1 Raja-raja 21:1-129).

Terkasih dalam Tuhan, pertimbangkan dengan matang saat kita membuat perencanaan. Kalau rencana kita tidak baik maka dengan sendirinya kita sudah memperbudak diri dengan dosa. Hati akan diliputi dengan tipu daya, menjadi penipu, bahkan menyesatkan mereka yang kita libatkan. Hidup kita tersesat sebab saat mereka-reka yang jahat, dengan sendirinya kaki kita akan melangkah mewujudkannya. Jika ini terjadi, Tuhan tidak tutup mata! Kebinasaan menimpa kita dan tidak menutup kemungkinan kita tidak pernah dipulihkan lagi (Amsal 6:12-15). Jangan mau diperbudak dosa karena sebuah perencanaan. (lr)

DOA: “Biarlah Roh Kudus-Mu terus memimpinku, ya Tuhan. Karena aku tahu tanpa bimbingan-Mu, aku bisa terjerumus dalam dosa yang keji karena rencana hidup yang aku buat. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘require’, ‘GTM-57TPRBZ’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

.async-hide { opacity: 0 !important}
(function(a,s,y,n,c,h,i,d,e){s.className+=’ ‘+y;h.start=1*new Date;
h.end=i=function(){s.className=s.className.replace(RegExp(‘ ?’+y),”)};
(a[n]=a[n]||[]).hide=h;setTimeout(function(){i();h.end=null},c);h.timeout=c;
})(window,document.documentElement,’async-hide’,’dataLayer’,4000,
{‘GTM-57TPRBZ’:true});

from Blogger http://bit.ly/2xf39Bc

Sumber Air

Posted On Agustus 19, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Mazmur 1:3
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Ada beberapa tanaman dan pohon di depan rumah saya. Pada malam hari saya suka menyemprot mereka dengan air. Pada saat menyemprotnya saya senang sekali melihat daun-daunan terkena air menjadi segar kembali setelah seharian kepanasan. Dengan semprotan yang rutin, tanaman dan pohon itu tidak menjadi kering atau mati meskipun cuaca sedang panas-panasnya di lingkungan saya karena musim hujan belum menggantikan musim kemarau saat ini.

Saya jadi teringat akan firman Tuhan dalam Kitab Mazmur 1:1-3: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

Sebuah pohon tidak layu dan bisa berbuah karena ada sumber air yang memberinya kehidupan. Begitulah orang-orang percaya yang menjadikan firman Tuhan sebagai sumber mata air kehidupan mereka. Yang menjadi penuntun orang percaya bukanlah nasihat orang fasik atau pelaku-pelaku kejahatan tetapi firman Tuhan dengan segala kebenarannya. Lalu pada akhirnya ada buah yang dihasilkan dari sumber air hidup ini, dan percayalah buah itu pasti buah yang baik.

Tuhan sudah memberikan petunjuk yang sangat jelas sebagai pegangan hidup kita di dunia ini. Tinggal kita sendiri, apakah mau melakukan ajaran firman Tuhan atau mau hidup seenaknya meniru cara hidup orang dunia? Saya percaya Saudara tahu mana yang terbaik untuk dilakukan. Puji Tuhan! (ba)

DOA: “Firman-Mu itulah ya Tuhan yang menjadi pegangan hidupku, bagaikan sumber air yang akan membuat hidupku berbuah. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘require’, ‘GTM-57TPRBZ’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

.async-hide { opacity: 0 !important}
(function(a,s,y,n,c,h,i,d,e){s.className+=’ ‘+y;h.start=1*new Date;
h.end=i=function(){s.className=s.className.replace(RegExp(‘ ?’+y),”)};
(a[n]=a[n]||[]).hide=h;setTimeout(function(){i();h.end=null},c);h.timeout=c;
})(window,document.documentElement,’async-hide’,’dataLayer’,4000,
{‘GTM-57TPRBZ’:true});

from Blogger http://bit.ly/2xczWXq

Sungut-Sungut

Posted On Agustus 18, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Keluaran 16:8b
Bukan kepada kami sungut-sungutmu itu, tetapi kepada TUHAN.

Dalam perjalanan pulang, di sebuah rest area kami berhenti untuk sekadar beristirahat sejenak dan ke toilet. Waktu itu diberlakukan antrean per pintu. Setiap pintu ditunggui beberapa orang yang menunggu giliran pakai toilet. Saya memilih pintu paling ujung. Sayang, dua orang di depan saya ternyata berkebutuhan khusus di dalam toilet, sehingga saya harus menunggu lama sekali.

Setelah kejadian itu, saya terus mengomel hampir di sepanjang perjalanan. Sebenarnya saya malu sekali dengan sungut-sungut saya sendiri, tetapi hati saya begitu kesal saat itu. Saya merasa tidak beruntung.

Beberapa waktu kemudian, dalam sebuah ibadah, pendeta menjelaskan tentang perjalanan Bangsa Israel keluar dari Mesir. Mereka bersungut-sungut setiap kali ada hal yang kurang menyenangkan dalam perjalanan itu. Memang mereka tampak bersungut-sungut pada Musa dan Harun, tetapi nats bacaan kita hari ini jelas menunjukkan bahwa sungut-sungut mereka itu ternyata sampai kepada Tuhan. Sesungguhnya, Tuhanlah sasaran persungutan mereka.

Saya pun tersadar bahwa sesungguhnya, ketika saya mengeluh tentang begitu banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan saya, saat itu juga secara tidak langsung saya berkata, “Tuhan tidak sayang saya lagi!” Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah: ketika saya tidak mampu memandang kesulitan atau kenyataan hidup yang tidak saya harapkan, sebagai berkat Tuhan untuk kebaikan saya, maka sesungguhnya saat itu saya tengah menyalahkan Tuhan.

Apakah Anda tengah mengeluhkan kenyataan hidup hari ini? Apakah saat terbangun dari tidur pagi tadi, Anda sudah menarik napas panjang-panjang karena teringat akan begitu banyaknya persoalan yang harus dihadapi? Ada tips bagus dari seorang pendeta, yaitu mengucapkan dua ayat berikut ini sebelum beranjak dari pembaringan. “Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya.”(Mazmur 118:24). Kemudian, yakinlah bahwa, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). Dengan melakukannya, setidaknya kita telah memperlengkapi diri dengan senjata Allah. Dua ayat tersebut, juga akan menjauhkan kita dari sungut-sungut, utamanya pada Tuhan. Jadi, cobalah! (em)

DOA: “Harus kuakui, tidaklah mudah menolak godaan bersungut-sungut, ya Tuhan. Namun setelah kutahu bahwa semua itu sampai kepada-Mu, aku bertekad untuk menjadikan firman-Mu senjataku. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘require’, ‘GTM-57TPRBZ’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

.async-hide { opacity: 0 !important}
(function(a,s,y,n,c,h,i,d,e){s.className+=’ ‘+y;h.start=1*new Date;
h.end=i=function(){s.className=s.className.replace(RegExp(‘ ?’+y),”)};
(a[n]=a[n]||[]).hide=h;setTimeout(function(){i();h.end=null},c);h.timeout=c;
})(window,document.documentElement,’async-hide’,’dataLayer’,4000,
{‘GTM-57TPRBZ’:true});

from Blogger http://bit.ly/2uVoHly

Injil Itu Kekuatan Allah

Posted On Agustus 17, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

(Roma 1:16)
Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.

Sahabat, kita harus mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil Yesus Kristus. Mengapa hal ini demikian penting? Ada tiga hal yang harus kita ketahui. Pertama, Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Yang menyelamatkan kita bukanlah hasil pemahaman dan pengertian kita sendiri untuk mencari Allah, melainkan kita diselamatkan oleh kekuatan Allah di dalam Injil Yesus Kristus yang kita imani.

Kedua, di dalam Injil nyata kebenaran Allah yang bertolak atau berawal dari iman dan memimpin (bertujuan akhir) kepada iman (Roma 1:17). Orang benar akan hidup oleh iman! Oleh karena itu, Yesus dalam doa-Nya untuk murid-murid-Nya, Dia menguduskan mereka dalam kebenaran firman Allah, supaya iman murid-murid dapat bertumbuh dengan kuat dan kokoh karena mereka akan diutus ke dalam dunia untuk memberitakan Injil keselamatan di dalam nama Yesus (Yohanes 17:17-18, Kisah Rasul 13:47).

Ketiga, Injil harus diberitakan kepada segala bangsa agar mereka percaya dan diselamatkan. Memang prioritas pertama pemberitaan Injil adalah kepada orang Yahudi, tetapi karena orang Yahudi telah menolak Yesus Kristus sebagai Mesias mereka, maka keselamatan melalui iman kepada kekuatan Injil Yesus Kristus pun diberikan sebagai karunia Allah kepada bangsa-bangsa lain di luar bangsa Yahudi (Roma 1:16).

Oleh sebab itulah, Tuhan Yesus telah secara khusus mengutus Paulus untuk dengan berani bersaksi tentang Injil Yesus Kristus bukan saja di Yerusalem buat orang Yahudi, tetapi juga untuk pergi bersaksi di Roma terhadap orang Yunani dan bangsa-bangsa lain yang non-Yahudi (Kisah Rasul 23:11).

Sahabat, jangan pernah meragukan Injil yang adalah firman Allah, tetapi percayalah dan milikilah kekuatan Allah di dalam Injil Yesus Kristus, agar kita diselamatkan, dimampukan Allah untuk bertumbuh kokoh dalam iman dan dapat menjalankan Amanat Agung untuk memberitakan Injil kepada segala bangsa. Ingatlah bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan kita dan semua yang mendengar dan percaya karena Injil yang kita beritakan. (gs)

DOA: “Terima kasih, Tuhan, untuk anugerah keselamatan yang Engkau berikan. Dengan iman aku pun mau memberitakan Injil Kristus sehingga banyak jiwa percaya dan diselamatkan. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘require’, ‘GTM-57TPRBZ’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

.async-hide { opacity: 0 !important}
(function(a,s,y,n,c,h,i,d,e){s.className+=’ ‘+y;h.start=1*new Date;
h.end=i=function(){s.className=s.className.replace(RegExp(‘ ?’+y),”)};
(a[n]=a[n]||[]).hide=h;setTimeout(function(){i();h.end=null},c);h.timeout=c;
})(window,document.documentElement,’async-hide’,’dataLayer’,4000,
{‘GTM-57TPRBZ’:true});

from Blogger http://bit.ly/2fNaQLx

Kesabaran

Posted On Agustus 16, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

(Galatia 5:22-23)
Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Ada ungkapan bahwa sabar itu indah namun sabar itu sukar. Harus diakui bahwa kesabaran itu sesuatu yang gampang dikatakan, namun sangat sulit dilakukan karena memerlukan kekuatan yang ekstra. Kesabaran adalah salah satu dari buah Roh. Kesabaran berasal dari kata Yunani “macrothumia” yang merupakan gabungan dari dua kata, yaitu: “macro” yang berarti “panjang”, dan  “thumos” yang artinya “temperamen”.  Jadi kesabaran itu mengacu pada pengertian tentang kemarahan yang memerlukan waktu yang sangat panjang untuk membangkitkannya sebelum kemarahan itu dinyatakan atau amarah yang terkendali.
Tidak sedikit dari kita yang memiliki temperamen pendek, artinya mudah sekali kehilangan kesabaran dan menjadi marah. Tersinggung dengan kata-kata yang kurang mengenakkan saja, amarah kita langsung meledak dan tak terkendali. Namun ada juga orang-orang yang mampu mengendalikan amarah dan bisa sabar terhadap orang lain. Kesabaran adalah lawan dari kemarahan yang tidak pada tempatnya, kemampuan untuk menahan diri dalam menghadapi situasi-situasi sulit.

Begitu pentingnya kesabaran dalam hidup orang percaya sehingga firman Tuhan menempatkannya pada urutan tertentu. Bila kita sudah memiliki kasih, sukacita dan damai sejahtera, kesabaran akan hadir. Tuhan Yesus sendiri telah memberi teladan hidup kepada kita, bagaimana Ia tetap sabar terhadap orang-orang yang menganiaya dan menyalibkan Dia di kayu salib. Tidak ada amarah sama sekali. Dan sabar adalah sifat Allah; Dia sabar terhadap setiap orang. Sebagai anak-anak-Nya, sudah seharusnya kita mewarisi sifat-sifat Bapa kita, bukan? Jika tidak, lantas kita ini anak siapakah?

Dalam menghadapi tahun yang baru ini, marilah kita belajar untuk menjadi lebih sabar dalam segala hal, sebab kesabaran akan membuat kita menjadi tahan uji dan memiliki pengertian yang lebih dari orang-orang lain. Milikilah kesabaran, karena orang yang sabar melebihi seorang pahlawan (Amsal 16:32).
Roh Kudus akan memampukan kita jika kita meminta tuntunan-Nya. (aa)

DOA: “Roh Kudus, tolonglah aku sebagai anak Allah agar memiliki kesabaran lebih lagi dalam menghadapi segala sesuatu, sebab itu adalah sifat Bapa yang harus nyata dalam hidupku. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘require’, ‘GTM-57TPRBZ’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

.async-hide { opacity: 0 !important}
(function(a,s,y,n,c,h,i,d,e){s.className+=’ ‘+y;h.start=1*new Date;
h.end=i=function(){s.className=s.className.replace(RegExp(‘ ?’+y),”)};
(a[n]=a[n]||[]).hide=h;setTimeout(function(){i();h.end=null},c);h.timeout=c;
})(window,document.documentElement,’async-hide’,’dataLayer’,4000,
{‘GTM-57TPRBZ’:true});

from Blogger http://bit.ly/2uHmlKO

Garam Dunia

Posted On Agustus 15, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

(Matius 5:13)
Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.


Tuhan Yesus sering menggunakan perumpamaan dalam memberikan pengajaran kepada murid-murid-Nya, maupun kepada orang banyak yang mengikuti Dia. Kali ini, Yesus menggambarkan kehidupan orang yang mau mengikut Dia seperti garam dunia. Tentunya kita semua telah mengetahui dan paham tentang manfaat dari garam dalam kehidupan sehari-hari, yaitu untuk mengawetkan maupun menyedapkan makanan.

Garam sering kali dianggap rendah atau tidak ada nilainya, tetapi sangat bermanfaat. Demikian juga dengan kehidupan orang beriman. Seringkali dianggap remeh dan tidak bernilai, bahkan tidak diperhitungkan oleh orang lain dalam dunia ini. Namun, kita dapat bermanfaat untuk menyelamatkan orang berdosa, agar mereka tidak binasa oleh api kekekalan dalam neraka. Kehidupan Kristen yang menjadi ‘garam’akan memberikan ‘rasa sedap’ bagi mereka yang sedang tawar hati dan tidak bersemangat.

Yesus menasehatkan agar orang beriman tetap menjaga ‘rasa asin’, yaitu gambaran kualitas rohani yang dimiliki, agar berguna seperti garam yang baik. Joyce Meyer mengatakan sebagai berikut, “Every day can be exciting if we see ourselves as God’s secret agents, waiting to sprinkle a little salt on all the lives we encounter.” Artinya, “setiap hari akan menjadi hari yang menggairahkan jika kita menganggap diri kita sebagai agen rahasia Allah, yang menanti untuk memancarkan sedikit garam dalam kehidupan semua orang yang kita temui”. Bukankah hidup yang indah, bila kita menjadi berkat bagi sesama?

Bagaimana dengan kita? Apakah kita telah menjadi garam bagi sesama? Atau mungkin kita telah menjadi ‘tawar’, hingga hidup kita tidak berdampak bagi orang lain? Mereka tidak merasakan adanya ‘rasa asin’ itu dalam kehidupan kita, sehingga kita dianggap tak bernilai? Tentunya hal itu tidak dikehendaki oleh Yesus. Ia mau supaya kita menjadi garam dunia yang berfungsi dengan baik. Mari evaluasi diri. Bila perlu, lakukanlah konsultasi dengan rohaniwan atau mereka yang lebih dewasa dalam iman,untuk menemukan ‘rasa asin’ itu, agar kita dapat ‘menggarami’ dunia dengan nilai kristiani kita. (phm)

DOA: “Tolongku Tuhan, agar hidupku menjadi garam yang berdampak mengubah kehidupan orang lain di sekitarku bagi kemuliaan-Mu. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘require’, ‘GTM-57TPRBZ’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

.async-hide { opacity: 0 !important}
(function(a,s,y,n,c,h,i,d,e){s.className+=’ ‘+y;h.start=1*new Date;
h.end=i=function(){s.className=s.className.replace(RegExp(‘ ?’+y),”)};
(a[n]=a[n]||[]).hide=h;setTimeout(function(){i();h.end=null},c);h.timeout=c;
})(window,document.documentElement,’async-hide’,’dataLayer’,4000,
{‘GTM-57TPRBZ’:true});

from Blogger http://bit.ly/2vylTNO

Laman Berikutnya »