Memperbudak Diri

Tidak sesatkah orang yang merencanakan kejahatan? Tetapi yang merencanakan hal yang baik memperoleh kasih dan setia. (Amsal 14:22)

Orangtua yang menghendaki masa depan yang baik bagi anak-anaknya, akan memikirkan cara menyiapkan, memotivasi dan membawa anaknya menuju masa depan. Anak-anak yang ingin membahagiakan orangtua pasti membuat perencanaan untuk mewujudkan impiannya. Bahkan untuk kematian pun, manusia membuat suatu rencana. Misalnya, mengenai cara pemakaman dan tempat dikuburkan.  Tanpa perencanaan, kegagalan akan mewarnai usaha manusia (Amsal 24:6), karenanya setiap orang harus punya planning hidup.

Satu hal yang harus kita camkan dalam membuat perencanaan, jangan lupakan Tuhan dalam perencanaan kita. Jika kita mengingat Tuhan setiap kali membuat suatu rencana, tentu kita mempertimbangkan kehendak Tuhan di dalamnya. Kalau pun tidak, dalam arti karena kita tahu yang kita rancangkan tak berkenan kepada Tuhan, mungkin usaha kita berhasil. Tapi jangan lupa, upah perbuatan kita pasti akan menyertai hidup kita sesuai waktu Tuhan.

Raja Ahab mendapatkan impiannya akan lahan yang subur. Tragis, didapat melalui tindakan keji dari isterinya bernama Izebel. Ia merencanakan kejahatan terhadap Nabot pemilik tanah pusaka leluhurnya. Izebel menyusun strategi yang sangat rapi dengan membuat surat atas nama Ahab sebagai penguasa, menyuruh rakyat berkumpul berpuasa dan Nabot harus duduk paling depan. Sebab, ia telah menyiapkan saksi dusta yang akan ‘mendakwa’ Nabot sehingga orang yang tidak bersalah ini mati dilempari batu sesuai arahan Izebel. Mereka berhasil tapi hukuman Tuhan menimpa keluarga raja (1 Raja-raja 21:1-129).

Terkasih dalam Tuhan, pertimbangkan dengan matang saat kita membuat perencanaan. Kalau rencana kita tidak baik maka dengan sendirinya kita sudah memperbudak diri dengan dosa. Hati akan diliputi dengan tipu daya, menjadi penipu, bahkan menyesatkan mereka yang kita libatkan. Hidup kita tersesat sebab saat mereka-reka yang jahat, dengan sendirinya kaki kita akan melangkah mewujudkannya. Jika ini terjadi, Tuhan tidak tutup mata! Kebinasaan menimpa kita dan tidak menutup kemungkinan kita tidak pernah dipulihkan lagi (Amsal 6:12-15). Jangan mau diperbudak dosa karena sebuah perencanaan. (lr)

DOA: “Biarlah Roh Kudus-Mu terus memimpinku, ya Tuhan. Karena aku tahu tanpa bimbingan-Mu, aku bisa terjerumus dalam dosa yang keji karena rencana hidup yang aku buat. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2Gc27d6

Iklan

Membina Relasi yang Baik

… bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah. (2 Korintus 1:12)

Pada umumnya manusia hidup dalam suatu komunitas tertentu yang sesuai dengan pilihan hatinya, yaitu di mana ia dapat merasakan adanya kenyamanan dan keakraban dalam komunitas tersebut. Namun, tidak dapat disangkal bahwa hubungan satu dengan lainnya dapat menjadi retak atau terputus sama sekali karena berbagai sebab. Salah satu sebabnya adalah karena adanya sifat atau sikap kita yang tidak benar. Hal itu juga terjadi dalam gereja mula-mula, seperti yang terdapat di kota Korintus.

Rasul Paulus mengemukakan sebuah pernyataan yang patut kita teladani, supaya hubungan satu dengan lainnya dapat berjalan dengan baik yaitu: Pertama, adanya ketulusan dan kemurnian dari Allah. Membina relasi dengan tulus dan murni bukanlah perkara yang mudah dilakukan. Hal ini disebabkan karena sifat kita yang berdosa, yaitu karena kita masih dikuasai oleh keinginan jasmani. Untuk itu kita harus rela mengenakan ukuran Kristus.

Sebagai contoh adalah masih terdapat sifat egois, mencari keuntungan diri sendiri, keserakahan, kesombongan dan merasa diri lebih utama dari yang lain. Contoh lainnya, jika kita masih memakai hikmat duniawi, yaitu norma dunia yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Misalnya ketika merasa dirugikan atau tersinggung ucapan sesama, bila perlu melakukan kekerasan sebagai balasan atau menempuh jalur hukum. Hal-hal ini dapat menjadi duri dan
onak yang mengganggu dan menghancurkan relasi satu dengan yang lainnya.

Hal berikut yang diperlukan adalah memiliki kasih karunia Allah. Dengan kasih karunia, kita akan mudah untuk memaafkan atau mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Dalam Matius 18:21-35, Yesus mengajarkan tentang arti pengampunan. Walaupun hal itu tidak mudah, bukan berarti tidak dapat dilakukan. Kita harus dapat meninggalkan cara dan norma-norma dunia dalam menyelesaikan konflik di antara sesama kita. Oleh sebab itu, mari kita bina relasi yang baik dengan sesama kita, sesuai dengan yang Tuhan kehendaki, yaitu dalam ketulusan, kemurnian dan dengan kasih karunia Allah yang kita telah terima daripada-Nya. (phm)

DOA : “Tolongku,Tuhan, agar dapat membina relasi dengan baik sesuai dengan kehendak-Mu, yaitu dalam ketulusan, kemurnian dan dalam kasih. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2jPfpUd

Buang Keangkuhanmu

Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian. (Amsal 29:23)

Siapa yang suka orang angkuh? Tidak ada. Dan siapakah yang mau jadi orang yang angkuh? Tidak ada satu pun dari kita yang mau. Namun tanpa sadar seringkali kita bersikap demikian. Kata “angkuh” dalam bahasa Inggris disebut sebagai ‘pride’. Alkitab bahasa Inggris KJV menyebutkan: “A man’s pride shall bring him low: but honour shall uphold the humble in spirit.” Dalam terjemahan bebas: “Keangkuhan seorang pria akan merendahkan dia, tapi orang yang rendah hati akan membuatnya dihormati oleh orang lain.

“Pride” seringkali pula diterjemahkan sebagai ‘harga diri’. Dan memang terkadang beberapa orang punya harga diri yang sangat tinggi. Inilah yang membuatnya menjadi angkuh. Ketika harga diri kita membuat kita merasa sebagai pihak yang paling benar dalam sebuah konflik, maka kita sedang berlaku angkuh. Keangkuhan itu memberi penghiburan palsu kepada kita dan mencegah kita mengalami pemulihan dalam hubungan-hubungan yang retak akibat konflik. Salah satu contoh, penghiburan palsu itu akan berkata dalam hati kita, “Bukan saya kok yang salah.” Dan kalaupun kita yang salah, maka ia kemudian akan berkata, “Meminta maaf itu adalah tindakan cengeng.”

Hanya pria sejati yang sanggup menekan harga dirinya. Hal yang sama berlaku juga untuk kaum hawa. Dibutuhkan kekuatan dan kerendahan hati untuk membuang harga diri. Orang yang rendah hati akan menjadi orang yang pertama untuk meminta maaf, tidak peduli siapa yang salah atau benar. Dan inilah kekuatan sejati yang punya power untuk memulihkan banyak sekali luka hati dan hubungan-hubungan yang retak.

Demikianlah seharusnya setiap orang Kristen bersikap, sebab itulah yang diteladankan oleh Guru kita, Yesus. Bersikap sebaliknya menunjukkan bahwa kita bukan murid Yesus. “Allah menentang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (1 Petrus 5:5). Harga diri yang berlebihan akan membahayakan jiwa Anda sendiri. Sebaliknya, kepada orang-orang yang rendah hati Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” (Matius 5:5). Buang keangkuhan! (ait)

DOA: “Ampuni aku, ya Roh Kudus, bila selama ini aku masih hidup dalam keangkuhan yang tak kusadari. Bawa aku untuk lebih rendah hati dari sehari ke sehari, dengan tuntunan-Mu. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2rFAO6P

Dimulai Dari Hati

Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. (Yohanes 13:2)

Kita pasti pernah mendengar nasihat ini: “Kembali kepada hati nurani masing-masing saja.” Nasihat yang kelihatan bijak ini seolah-olah menempatkan hati nurani sebagai sesuatu yang suci dan tak bisa dinodai sehingga produk-produk yang keluar darinya adalah kebenaran semata. Benarkah demikian? Jawabnya tentu saja tidak benar. Hati nurani dapat dikotori oleh dosa.

Yudas Iskariot memang adalah pribadi yang tamak akan uang. Tetapi kisah pengkhianatannya bukan karena ketamakannya. Ketamakan hanyalah jalan masuk iblis untuk menjerat Yudas. Pengkhianatan Yudas dimulai dari hati. Perhatikan ayat mas kita. Kata ‘telah’ di sana tepat seperti bahasa aslinya menunjukkan sebuah peristiwa yang terjadi sebelum peristiwa makan bersama tersebut. Sebelum peristiwa Yesus makan bersama semua murid-Nya, Yudas telah membiarkan iblis meracuni hatinya dengan rencana jahat. Akibatnya Yudas mengkhianati Yesus. Itulah sebabnya Alkitab menasihati kita: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23) Tetapi bila kita buka lebar-lebar hati kita dan mengizinkan semua hal masuk, kita pun dapat terjerat seperti Yudas.

Pintu masuk ke dalam hati manusia adalah pikiran. Pikiran adalah tempat di mana informasi yang masuk diolah berdasarkan pengetahuan, fakta dan pengalaman yang tersimpan dalam ingatan kita. Kemudian hati menimbang-nimbang dan memberi nilai kepada informasi itu benar atau salah, lalu memutuskan untuk melakukannya atau tidak. Bayangkan, betapa mengerikannya orang yang tidak lahir baru, yang tidak mengalami pembaharuan budi (Titus 3:5; Roma 12:2) dan yang tidak memiliki Roh Allah yang sanggup memimpin orang kepada seluruh kebenaran Allah (Yohanes 16:13). Dapat dipastikan produk hatinya adalah kebenaran manusia belaka atau bahkan keputusan celaka sama seperti Yudas. Jadi agar semua rencana kita berkenan kepada Allah dan dapat terlaksana baik, jaga pintu masuk hati kita yaitu pikiran kita, izinkan hanya firman Tuhan dan semua hal yang berkenan kepada Allah yang boleh masuk dan tinggal dalam pikiran kita.(tw)

DOA: “Biarlah firman-Mu menguasai pikiranku senantiasa,  agar semua rencanaku berkenan kepada-Mu. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2KccTTk

Memperbudak Diri

Tidak sesatkah orang yang merencanakan kejahatan? Tetapi yang merencanakan hal yang baik memperoleh kasih dan setia. (Amsal 14:22)

Orangtua yang menghendaki masa depan yang baik bagi anak-anaknya, akan memikirkan cara menyiapkan, memotivasi dan membawa anaknya menuju masa depan. Anak-anak yang ingin membahagiakan orangtua pasti membuat perencanaan untuk mewujudkan impiannya. Bahkan untuk kematian pun, manusia membuat suatu rencana. Misalnya, mengenai cara pemakaman dan tempat dikuburkan.  Tanpa perencanaan, kegagalan akan mewarnai usaha manusia (Amsal 24:6), karenanya setiap orang harus punya planning hidup.

Satu hal yang harus kita camkan dalam membuat perencanaan, jangan lupakan Tuhan dalam perencanaan kita. Jika kita mengingat Tuhan setiap kali membuat suatu rencana, tentu kita mempertimbangkan kehendak Tuhan di dalamnya. Kalau pun tidak, dalam arti karena kita tahu yang kita rancangkan tak berkenan kepada Tuhan, mungkin usaha kita berhasil. Tapi jangan lupa, upah perbuatan kita pasti akan menyertai hidup kita sesuai waktu Tuhan.

Raja Ahab mendapatkan impiannya akan lahan yang subur. Tragis, didapat melalui tindakan keji dari isterinya bernama Izebel. Ia merencanakan kejahatan terhadap Nabot pemilik tanah pusaka leluhurnya. Izebel menyusun strategi yang sangat rapi dengan membuat surat atas nama Ahab sebagai penguasa, menyuruh rakyat berkumpul berpuasa dan Nabot harus duduk paling depan. Sebab, ia telah menyiapkan saksi dusta yang akan ‘mendakwa’ Nabot sehingga orang yang tidak bersalah ini mati dilempari batu sesuai arahan Izebel. Mereka berhasil tapi hukuman Tuhan menimpa keluarga raja (1 Raja-raja 21:1-129).

Terkasih dalam Tuhan, pertimbangkan dengan matang saat kita membuat perencanaan. Kalau rencana kita tidak baik maka dengan sendirinya kita sudah memperbudak diri dengan dosa. Hati akan diliputi dengan tipu daya, menjadi penipu, bahkan menyesatkan mereka yang kita libatkan. Hidup kita tersesat sebab saat mereka-reka yang jahat, dengan sendirinya kaki kita akan melangkah mewujudkannya. Jika ini terjadi, Tuhan tidak tutup mata! Kebinasaan menimpa kita dan tidak menutup kemungkinan kita tidak pernah dipulihkan lagi (Amsal 6:12-15). Jangan mau diperbudak dosa karena sebuah perencanaan. (lr)

DOA: “Biarlah Roh Kudus-Mu terus memimpinku, ya Tuhan. Karena aku tahu tanpa bimbingan-Mu, aku bisa terjerumus dalam dosa yang keji karena rencana hidup yang aku buat. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2KKjV2u

Ketika Dia Periksa Hati Ini

Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya. (Yeremia 17:10)

Waktu kami pulang melayani dari pedalaman Lampung Timur, ketika sampai di pelabuhan Bakauheni dan hendak masuk membeli tiket masuk kapal, saat itu kendaraan yang kami tumpangi diperiksa oleh pihak berwajib karena ada razia Narkoba. Hal itu terjadi bukan terhadap kendaraan yang kami tumpangi saja tapi juga bagi kendaraan lainnya. Bagi kami tidak menjadi masalah karena bukan pemakai atau pengedar narkoba. Namun bagi mereka yang menjadi pengguna atau pengedar, maka pemeriksaan ini sangat menakutkan, sebab petugas memeriksa dengan seksama dan dengan begitu teliti.

Menyelidiki dalam ayat nats di atas, disalin dengan kata “chaqar” yang berarti memeriksa dengan seksama dan teliti. Dapat kita bayangkan jika saat ini Allah memeriksa hati kita, apakah bagi kita ini sesuatu yang menyukakan hati atau menakutkan? Jika kita hidup dekat dengan Tuhan, tentu ini tidak menakutkan, sebab kita diperiksa dengan seksama dan teliti oleh Tuhan untuk diketahui hal-hal yang ada dalam hati ini. Sebelum Tuhan memeriksa hati kita, marilah kita terlebih dulu memeriksa hati kita masing-masing, apakah hati ini berkenan kepada Tuhan atau sebaliknya? Tidak ada manusia yang tahu persis keadaan hati orang lain.

Firman Allah mengajarkan kita, jika hendak mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, kita harus periksa hati ini. Dan bila ada hal-hal yang belum beres, harus dibereskan terlebih dulu supaya persembahan kita diterima oleh Tuhan (Matius 5:23-24). Dalam arti, sebelum Tuhan yang memeriksa hati kita, biarlah kita sendiri yang memeriksa dan membereskannya supaya keadaan hati kita didapati tetap baik dan berkenan.

Perlu kita pahami bahwa jika Tuhan yang memeriksa hati kita, tidak ada yang dapat kita sembunyikan sebab Dia Mahatahu sampai kedalaman hati kita. Biarlah saat Dia memeriksa hati kita, tidak didapati-Nya sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran sebab kita akan menerima akibatnya. Bila masih ada hal yang tak berkenan, mohonlah pengampunan-Nya. (aa)

DOA: “Tuhan Yesus, ampunilah aku sekiranya Kau dapati ada yang tidak berkenan dalam hidupku. Aku mau berubah, dan tolonglah aku untuk melakukannya. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2JZoViM

Lembah Duka

Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion. (Mazmur 84:7,8)

Sebagai seorang kepala keluarga dan ayah dari dua orang anak, kadang saya merasa hampir-hampir tidak mampu menanggung beban hidup ini. Sekalipun saya dan istri adalah hamba Tuhan, bukan berarti bahwa kami tidak pernah mengalami pergumulan yang berat dalam hidup. Baik pergumulan dalam pelayanan,  dalam hal penyakit maupun ketika kami ditinggal oleh orang yang kami kasihi. Ada kalanya saya tergoda untuk mengasihani diri.

Hingga pada suatu hari saya belajar memahami Alkitab dengan membaca ayat di atas. Ternyata kata “baka” artinya ‘menangis’. Melalui ayat itu Tuhan menantang saya untuk “melintasi” lembah “baka” hidup saya, lembah duka, dan tidak tinggal diam di sana selamanya.

Ayat ini menghubungkan kesedihan dengan berkat di seberangnya. Kita dapat membuka hati meskipun di tengah-tengah kepedihan dan kesedihan serta membiarkan Tuhan mengajar kita. Seperti orang-orang yang disebutkan dalam Mazmur, kita pun dapat membuat ‘sumur’ dan Tuhan akan memenuhinya dengan air, untuk mengubah lembah duka kita menjadi berkat. Mengubah airmata menjadi mata air.

Dalam mengarungi hidup ini, tidak selamanya hidup kita mengalir tenang. Adakalanya Tuhan izinkan kita melewati masa-masa yang sukar, yang mungkin membuat kita meneteskan air mata ketika pergumulan itu terasa begitu  berat. Tetapi di balik air mata kita akan ada berkat Tuhan mengalir, jika kita
mencari Tuhan dengan kerinduan dan mengandalkan kekuatan-Nya.

Apakah saat ini Anda juga mengalami pergumulan yang berat? Apakah masa-masa sulit Anda serasa belum berakhir? Bukalah hatimu, tetaplah semangat dan berharap pada-Nya. Percayalah, Tuhan pasti akan menepati janji-Nya. Tuhan akan mengubah air mata kesusahan kita menjadi sorak-sorai sukacita, setelah kita berhasil melewati berbagai tantangan hidup dengan sikap yang benar.  Mari, bersama Tuhan kita mengubah lembah duka menjadi mata air
kehidupan, sebab tidak selamanya dibiarkan-Nya lembah duka itu ada. (se) 

DOA: “Tuhan, ketika kami melewati lembah duka, kiranya hati kami tetap terbuka kepada-Mu. Kuatkanlah kami sehingga dapat melewatinya, dan hidup kami menjadi berkat bagi orang lain. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2FQfGid