Bikin Bingung

Posted On Agustus 14, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

(1 Petrus 4:4)
Sebab itu mereka heran, bahwa kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama, dan mereka memfitnah kamu.

Di fitnah bukanlah sesuatu yang aneh bagi orang Kristen mula-mula. Orang-orang di sekitar mereka bingung melihat hidup mereka yang ‘aneh’ dan ‘nyeleneh’.  Aneh karena gaya hidup mereka berbeda. Mereka dianggap antisosial, tak mau bergaul dan kurang pergaulan karena tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama di dalam kubangan ketidaksenonohan.

Hidup mengikut arus itu memang gampang. Ikut-ikutan bergaya bicara seperti kebanyakan orang, berpikir, berpakaian minim, berperilaku seperti kebanyakan orang mungkin membuat Anda merasa ‘aman’ dan diterima oleh kebanyakan orang. Tetapi tahukah Anda bahwa firman Tuhan dalam Matius 7:13 mengatakan bahwa jalan kebanyakan orang itu menuju kebinasaan?

Menolak untuk menjadi serupa dengan banyak orang yang hidup menyimpang memang kelihatannya berbahaya bagi kita. Kita akan dijauhi, dicemooh, bahkan difitnah. Tetapi, kemauan untuk diterima dalam kelompok orang banyak yang menyimpang, sebetulnya berbahaya bagi Anda.

Sebab jalan mereka tidak sejalan dengan maunya Tuhan. Mayoritas manusia seperti ini hidup dalam pemberontakan melawan Allah. Masalahnya adalah, mana yang kita kita pilih: bermasalah dengan manusia ataukah bermasalah dengan Allah?

Ikut arus itu gampang. Ikan mati juga bisa ikut arus. Tetapi kita bukanlah ikan mati! Kita adalah anak-anak Bapa di Sorga. Kita telah dipanggil kepada gaya hidup yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengan kebanyakan orang. Memang mereka akan bingung ketika kita tidak ikut-ikutan korupsi di kantor dan tidak ikut menjelek-jelekkan pemimpin.

Mereka juga bingung ketika kita menolak untuk ikut bersenang-senang di club, panti pijat dan hotel, dan ketika anak-anak muda tidak mau menyontek dan memberi contekan, tidak pacaran sembarang dan tetap menjaga kekudusan. Orang dunia akan bingung bukan kepalang dengan gaya hidup kita yang saleh. Tapi hanya dengan cara inilah hidup kita benar-benar memberi dampak besar bagi mereka. Oleh karena itu, mari kita bikin dunia bingung, sampai akhirnya nanti mereka menyerah, bertobat dan tinggalkan gaya hidup yang lama.(ait)

DOA: “Meski tampak aneh dan membingungkan, ajarilah aku untuk tetap hidup sesuai dengan gaya hidup kudus yang Kauajarkan dalam firman-Mu, ya Tuhan. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘require’, ‘GTM-57TPRBZ’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

.async-hide { opacity: 0 !important}
(function(a,s,y,n,c,h,i,d,e){s.className+=’ ‘+y;h.start=1*new Date;
h.end=i=function(){s.className=s.className.replace(RegExp(‘ ?’+y),”)};
(a[n]=a[n]||[]).hide=h;setTimeout(function(){i();h.end=null},c);h.timeout=c;
})(window,document.documentElement,’async-hide’,’dataLayer’,4000,
{‘GTM-57TPRBZ’:true});

from Blogger http://bit.ly/2hXgECw

Bukan Seteru Tapi Sahabat

Posted On Agustus 13, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Roma 5:10
Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! ()


Dalam keseharian tentu kita pernah melihat dua orang teman yang bersitegang hingga akhirnya bertengkar. Mulanya hubungan mereka baik bahkan bersahabat tetapi karena suatu masalah kemudian hubungan baik itu menjadi tegang dan malahan putus. Mereka berhenti bicara, komunikasi yang terjalin terasa tak menyenangkan dan ganjil. Lambat laun mereka menjadi seperti orang asing. Mereka menjadi terpisah satu sama lain. Pemisahan seperti ini hanya dapat dipulihkan melalui apa yang disebut sebagai pendamaian. Diperdamaikan berarti persahabatan atau keharmonisan dipulihkan kembali. Ketika dua orang yang bermusuhan menyelesaikan perbedaan mereka dan memulihkan hubungan mereka, pendamaian terwujud.

Dosa adalah kebencian Allah. Itu sebabnya ketika manusia berdosa hubungan antara manusia dengan Allah terputus. Keharmonisan yang pernah terjalin di Taman Eden sirna. Allah menjadi tak terhampiri oleh manusia. Tetapi kematian Kristus Yesus di kayu salib untuk menebus dosa manusia telah mendamaikan hubungan yang telah rusak tersebut.

Kristus memulihkan hubungan antara Allah dengan manusia. Manusia kembali dapat berhubungan baik dengan Allah melalui Tuhan Yesus. Dengarlah ucapan Tuhan Yesus ini: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” (Yohanes 15:15). Puji Tuhan, kita yang percaya kepada Tuhan Yesus tidak lagi menjadi seteru atau musuh Allah tetapi telah menjadi sahabat Allah.

Sebagai seorang sahabat melalui Kristus Yesus, Allah begitu memperhatikan kita. Tidak akan pernah dibiarkan-Nya kita berjalan sendiri. Allah selalu ada bagi kita dalam setiap musim hidup kita, untuk turut merasakan, lalu menghibur, menolong, menopang dan menghapuskan air mata kita. Dia tuntun kita agar sampai di tempat di mana tangisan tiada, kesusahan lenyap, tempat dari senang kepada senang, yaitu sorga. Sudahkah kita menyadarinya? Mari, jangan abaikan kehadiran-Nya dalam hidup kita. Undang Dia terlibat dalam apapun di hidup kita. (tw)

DOA: “Tuhan, terima kasih telah mau menjadi sahabat setiaku. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘require’, ‘GTM-57TPRBZ’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

.async-hide { opacity: 0 !important}
(function(a,s,y,n,c,h,i,d,e){s.className+=’ ‘+y;h.start=1*new Date;
h.end=i=function(){s.className=s.className.replace(RegExp(‘ ?’+y),”)};
(a[n]=a[n]||[]).hide=h;setTimeout(function(){i();h.end=null},c);h.timeout=c;
})(window,document.documentElement,’async-hide’,’dataLayer’,4000,
{‘GTM-57TPRBZ’:true});

from Blogger http://bit.ly/2uzdqv2

Motivasi Diri

Posted On Agustus 12, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

(Yohanes 4:24)
Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.

Setiap orang pasti bisa berdoa. Apalagi setiap agama, apapun aliran kepercayaan yang dianut, mengajarkan pengikutnya sejak kecil untuk berdoa. Tapi dalam kenyataannya, tidak semua orang dapat berdoa dengan benar. Kita bisa berdoa tetapi kepada siapakah doa itu dialamatkan, bagaimana cara kita berdoa dan apakah motivasi doa kita, semua hal ini memengaruhi jawaban doa yang akan kita terima kelak dari Tuhan.

Ada orang yang berdoa hanya supaya dilihat dan diketahui orang bahwa ia berdoa. Ini masuk dalam kategori orang munafik sebab tujuannya berdoa agar terkesan rohani. Begitu juga ada yang datang berdoa dengan memosisikan diri sebagai orang yang paling benar. Orang seperti ini ketika berdoa, dalam doanya membandingkan hidupnya dengan orang lain kemudian menghakimi dalam hati (Lukas 18:10-14).

 Berdoa tapi tidak mawas diri padahal Tuhan melihat hati manusia yang remuk dan datang kepada-Nya dengan kerendahan hati. Untuk terkesan orang berhikmat, pintar berkata-kata, ada pula yang berdoa bertele-tele seperti tidak mengenal Allah, sementara jauh sebelum kita mengucapkan, Tuhan sudah tahu kebutuhan kita (Matius 6:5-8).

Tuhan pasti sangat senang mendapati umat kepunyaan-Nya berdoa. Hanya saja kita juga harus tahu bahwa Tuhan hanya berkenan kepada orang-orang yang datang menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Tubuh kita bisa dalam keadaan berdoa dan menyembah Tuhan, tetapi yang terkoneksi dengan Tuhan adalah roh sebab Allah itu Roh (Yohanes 4:24). Roh yang membuat kita bisa berhubungan dengan Tuhan sehingga Ia memahami isi hati nurani kita dan bekerja dalam kita sesuai kehendak-Nya.

Mulai hari ini, mari persiapkan diri kita saat menghampiri Tuhan yang kudus. Percuma saja setiap hari, dan mungkin hampir setiap saat kita mengambil waktu bersekutu dengan Tuhan, tetapi dengan membawa hidup yang tidak berkenan kepada-Nya. Jika keinginan daging menguasai hasrat kita untuk berdoa, ini merupakan perseteruan terhadap Allah. Jangan sia-siakan waktu kita dengan harapan kosong karena datang dengan motivasi tidak benar. (lr)

DOA: “Dengan kerendahan hati aku datang menyerahkan pergumulanku kepada-Mu, ya Tuhan. Kuduskan, dan jauhkan daripadaku segala keinginan yang tidak berkenan kepada-Mu. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘require’, ‘GTM-57TPRBZ’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

.async-hide { opacity: 0 !important}
(function(a,s,y,n,c,h,i,d,e){s.className+=’ ‘+y;h.start=1*new Date;
h.end=i=function(){s.className=s.className.replace(RegExp(‘ ?’+y),”)};
(a[n]=a[n]||[]).hide=h;setTimeout(function(){i();h.end=null},c);h.timeout=c;
})(window,document.documentElement,’async-hide’,’dataLayer’,4000,
{‘GTM-57TPRBZ’:true});

from Blogger http://bit.ly/2uyw7uL

Semangat yang Baru

Posted On Agustus 11, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

(Ayub 9:27)
Bila aku berpikir: Aku hendak melupakan keluh kesahku, mengubah air mukaku, dan bergembira.

Ketika baru keluar dari sekolah Alkitab, saya merasa bagaikan seorang prajurit yang siap bertempur di medan perang. Membayangkan bahwa saya akan diterima sebagai kawan sekerja dari para hamba Tuhan yang senior. Namun yang saya alami justru sebaliknya. Penolakan demi penolakan bahkan pengkhianatan saya alami, bukan dari ‘musuh’ melainkan dari orang-orang yang saya anggap sebagai kawan sekerja. Hampir saja saya meninggalkan pelayanan kalau bukan karena Firman Tuhan yang telah mengingatkan dan menguatkan saya pada waktu itu.

Firman Tuhan banyak memberikan nasihat yang baik dalam kita menangani penolakan, penipuan, atau kegagalan yang sedang kita hadapi. Mungkin kita telah cukup banyak mengalami luka hati yang menahan kita untuk dapat maju. Tawar hati dan kemunduran rohani dapat menghilangkan sukacita apabila kita tidak berhati-hati menyikapinya. Bahkan kesuksesan sekalipun dapat membuat kita menjadi sasaran kritik dari rekan-rekan kita yang iri terhadap prestasi yang telah kita buat.

Karena itu berhati-hatilah dan tetap miliki semangat yang baru. Luka yang tersembunyi dalam hati dapat menyuburkan pikiran yang negatif. Seringkali luka yang paling menyakitkan bukanlah tanda bekas luka yang kelihatan dari luar, melainkan luka yang tersembunyi, yang berada jauh di kedalaman hati. Karena tersembunyi itulah, justru seringkali menjadi sangat berbahaya.

Dalam perjalanan iman kita, seringkali ada sekumpulan luka pribadi yang kemudian dapat mengikat jiwa kita seperti parasit yang akan melemahkan vitalitas hidup kita. Namun, kita tidak boleh membiarkan emosi-emosi negatif itu menguasai kita. Seperti Ayub, kita juga dapat berkata: “Aku hendak melupakan keluh kesahku, mengubah air mukaku, dan bergembira.” Dengan iman kita harus berusaha keras untuk dapat menerima luka hati kita dan minta pemulihan Tuhan. Bangkitkan suatu semangat yang baru serta dorongan untuk terus bertumbuh, hingga seluruh pikiran negatif yang sudah terpolusi akan mengalir keluar dari pikiran dan jiwa kita. (se)

DOA: “Bapa yang baik, tolonglah aku agar dapat menerima dan mengatasi setiap luka batin yang kualami. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘require’, ‘GTM-57TPRBZ’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

.async-hide { opacity: 0 !important}
(function(a,s,y,n,c,h,i,d,e){s.className+=’ ‘+y;h.start=1*new Date;
h.end=i=function(){s.className=s.className.replace(RegExp(‘ ?’+y),”)};
(a[n]=a[n]||[]).hide=h;setTimeout(function(){i();h.end=null},c);h.timeout=c;
})(window,document.documentElement,’async-hide’,’dataLayer’,4000,
{‘GTM-57TPRBZ’:true});

from Blogger http://bit.ly/2wNvU7w

Doa Bapa Kami

Posted On Agustus 10, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

(Efesus 1:9-10)
Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, … sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

Hari ini, kita akan mengupas sedikit tentang Doa Bapa Kami yang Tuhan Yesus ajarkan. Doa ini dimulai dengan, “Bapa Kami.” Kejadian 1:1 melukiskan bahwa Dia bukanlah Allah yang jauh. Ada hubungan kekeluargaan antara kita dan Allah. Dia tahu segala persoalan dan tantangan kita. Dia dengar waktu kita berdoa, apapun keadaannya. Sebab itu yakinlah bahwa Dia pasti jawab doa-doa kita, karena Roh Kudus sendiri yang menjadikan kita ini anak-anak Allah. Sering kali kita kenal Dia sebagai Bapa melalui kesulitan-kesulitan hidup. Ayub, contohnya. Pengalaman yang susah membuat kita mengenal Dia sebagai Bapa di dalam Yesus Kristus, yang selalu ada buat kita.

“Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”  Dalam nats bacaan kita hari ini, Allah telah menyatakan kehendak-Nya pada kita, yaitu untuk menyatukan kita. Di dalam Kristus kita punya harapan untuk sampai pada kekekalan. Selanjutnya Allah yang mengasihi kita mengajarkan untuk kita berkata, “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Kerajaan sorga sebenarnya sudah ada di dalam kita, meski bukan secara lahiriah. Tetapi suatu saat nanti, kerajaan sorga itu sungguh-sungguh akan kita tinggali. Alkitab penuh dengan janji-janji Allah, jadi baca dan baca, sebab setiap saat Roh Kudus akan mengingatkan kita, saat kita sungguh-sungguh memerlukannya.

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Kalau kita ditugaskan oleh perusahaan, kita akan diperlengkapi dengan fasilitas. Begitu juga dengan tugas sebagai saksi Allah. KIta adalah saksi-Nya walaupun bukan pendeta/penginjil. Dia sediakan makanan sebagai perlengkapan jasmani dan pengampunan sebagai perlengkapan rohani. Jadi ampunilah, sebab Allahlah yang punya hak untuk membalas, dan bukan kita.

“Jangan bawa kami ke dalam pencobaan” adalah program antivirus dari Allah. “Lepaskanlah kami dari yang jahat” adalah perlengkapan peperangan rohani yang Allah sediakan, agar bersama-Nya kita mendapatkan segala sesuatu. Doa ini ditutup dengan, “Karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan ….” Kemuliaan-Nya, itulah alasan Dia menciptakan kita. (as)

DOA: “Terima kasih untuk Doa Bapa Kami, ya Yesus. Betapa dalam arti doa yang Kauajarkan, Tuhan. Aku mau mengucapkan Doa Bapa Kami dengan lebih sungguh, sebab kutahu kini maknanya. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘require’, ‘GTM-57TPRBZ’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

.async-hide { opacity: 0 !important}
(function(a,s,y,n,c,h,i,d,e){s.className+=’ ‘+y;h.start=1*new Date;
h.end=i=function(){s.className=s.className.replace(RegExp(‘ ?’+y),”)};
(a[n]=a[n]||[]).hide=h;setTimeout(function(){i();h.end=null},c);h.timeout=c;
})(window,document.documentElement,’async-hide’,’dataLayer’,4000,
{‘GTM-57TPRBZ’:true});

from Blogger http://bit.ly/2wK9zba

Tenaga Atau Hikmat

Posted On Agustus 9, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Pengkhotbah 10:10
Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat. ()

Kata-kata hikmat yang diucapkan oleh Raja Salomo dapat memberikan motivasi untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Ayat di atas mengingatkan kita bahwa dalam keadaan tertentu kita memerlukan tenaga, tapi kita juga memerlukan hikmat untuk berhasil. Mana yang lebih baik?
Pada suatu kali saya menggergaji sepotong kayu untuk membuat rak kayu. Dengan semangat saya menggergaji kayu itu, tapi lama sekali majunya gergaji itu, sehingga membuat saya agak kesal. Saya terus menambah tenaga saya untuk menggergaji kayu itu, namun tetap sama saja keadaannya. Setelah diperiksa, ternyata mata gergajinya sudah tumpul. Setelah saya mengasah mata gergaji tersebut, barulah gergaji itu dapat digunakan untuk memotong kayu itu dengan baik, dan pekerjaan saya pun lebih cepat selesai.

Bagi orang tertentu, sulit sekali menjalankan pekerjaan yang memerlukan banyak pikiran, misalnya untuk menjadi seorang analis kimia atau analis keuangan. Demikian juga misalnya dalam bidang pengembangan usaha dan pelayanan, karena memang harus menggunakan lebih banyak pikiran daripada tenaga.  Untuk berhasil dalam bidang apapun juga, perlu adanya keseimbangan antara tenaga dan hikmat. Pengkhotbah berkata, “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi” (Pengkhotbah 9: 10).

Tenaga memang diperlukan, tetapi hikmat juga tidak boleh dilupakan. Dalam melakukan pekerjaan Tuhan, kita juga memerlukan hikmat dari Tuhan, lewat pekerjaan dan campur tangan Roh Kudus sebagai sumber hikmat kita. Oleh karena itu, Roh Kudus disebut sebagai roh hikmat dan wahyu (Efesus 1:17). Roh itu akan mengajarkan segala sesuatu yang harus kita lakukan, bahkan hal-hal yang tidak kita ketahui, sebagaimana yang dialami oleh Daniel (baca Daniel 5: 11-12). Milikilah hikmat yang dari Tuhan dan hasilkanlah karya terbaik dalam pekerjaan kita masing-masing, sesuai talenta dan kesanggupan kita untuk hormat dan kemuliaan-Nya, Sang Pemberi Hikmat. (phm)

DOA: “Kadang kala aku gagal karena lebih banyak memakai tenaga daripada pikiranku. Berikanlah hikmat-Mu, ya Tuhan, agar aku dapat menghasilkan karya yang terbaik. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2vCfa6u

Orang yang Tidak Adil

Posted On Agustus 8, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

1 Korintus 6:9a
Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? ()


Dalam nats hari ini Rasul Paulus mengingatkan kita betapa pentingnya untuk berlaku adil. Adil kepada Tuhan, kepada diri sendiri dan juga adil terhadap sesama kita! Bahkan kita pun dituntut untuk berbuat adil dalam perkara-perkara biasa atau hal-hal rutin dalam hidup kita sehari-hari (1 Korintus 6:3). Mengapa penting kita berlaku adil setiap hari?  Marilah kita belajar mengenai beberapa kebenaran berikut:

Pertama, karena kita telah disucikan atau dikuduskan, dan dibenarkan dalam nama Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita (ayat  11). Sebab itu setiap kita diberi kemampuan oleh Allah untuk berlaku adil. Bukan dengan kuat dan gagah kita, tetapi oleh Roh Allah yang ada didalam kita.

Kedua, berlaku adil memberikan kebebasan sejati bagi hidup kita pribadi, sehingga kita tidak membiarkan diri diperhamba oleh suatu apapun yang bisa membuka celah bagi diri kita untuk dianggap tidak adil oleh lawan kita. Misalnya dalam hal makanan yang kita makan. Segala sesuatu halal, tetapi bukan semuanya berguna (ayat 12).

Ketiga, berlaku adil akan membangun integritas hidup kita sebagai  “bait Roh Kudus” yang diam di dalam kita (ayat 19). Berlaku adil juga harus diterapkan untuk kehidupan kita pribadi. Artinya, kita harus menjaga kekudusan tubuh kita sehari-hari. Menjaganya untuk Tuhan adalah bentuk sikap berlaku adil, yaitu bersikap tidak mau enak sendiri, yang kita buktikan kepada Tuhan dan sesama (ayat 13). Marilah kita mengikatkan tubuh, jiwa, roh kita kepada Tuhan agar menjadi satu Roh dengan Dia. Berlaku adil dengan cara menjaga dan merawat kekudusan tubuh kita merupakan cara memuliakan Allah dengan tubuh kita (ayat 20).

Sahabat, berlakulah adil dengan cara tidak menghakimi cara hidup orang lain. Berlaku adil dengan menjaga kekudusan hidup tubuh kita untuk memuliakan Allah. Apabila kita sudah berlaku adil sesuai yang firman Tuhan ajarkan, kita akan menerima bagian kita dalam Kerajaan Allah.(gs)

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2uiZjps

Muliakan Tuhan dengan Terangmu

Posted On Agustus 7, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Matius 5:16
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.

Dua orang tawanan baru dimasukkan ke dalam kamp tahanan Perang Dunia II di Chungkai, Birma. Kamp yang penuh lalat dan kepinding itu juga diisi dengan orang-orang yang saling “memakan” demi melawan bau kematian yang mengintai di setiap sudut kamp. Mereka mencuri makanan orang-orang yang sekarat, berkelahi untuk mendapatkan sisa-sisa makanan dan hukum rimba telah menjadi peraturan tak tertulis di dalam kamp.

Tetapi kedua tawanan baru itu membawa “terang”. Meskipun sakit dan lemah, mereka membagi makanan mereka yang tak seberapa dan rela melakukan pekerjaan tambahan. Kedua malaikat itu membersihkan luka-luka para tawanan di sekitarnya, mengurut kaki-kaki mereka dan memandikannya. Perlahan, para tawanan itu merasa mendapatkan harga diri mereka kembali.

Dan kebaikan hati keduanya ternyata menular ke seluruh kamp. Para prajurit yang biasa mengawasi mereka dengan sadis, kini ikut terbawa arus kebaikan. Kebaktian dan pendalaman Alkitab pun mulai berdenyut di dalam kamp.

Dua puluh tahun berlalu, salah seorang tawanan yang telah dibebaskan menulis, “Maut masih berada bersama kami, tetapi perlahan kami dibebaskan dari cengkeraman egoisme, kebencian dan kesombongan yang merupakan sifat-sifat anti-kehidupan. Kasih, pengorbanan diri dan iman yang merupakan hakikat kehidupan, menggantikannya. Maut tak lagi jadi penentu terakhir.”

Di era kemerdekaan ini, mari renungkan apakah kita sudah menjadi terang yang sesungguhnya dengan menunjukkan kebaikan hati kita pada sesama atau siapa pun yang kita temui di sekitar kita? Saya sangat bersyukur dan ikut bangga bila Anda telah menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar Anda. Tetapi marilah kita melakukan firman Tuhan hari ini secara utuh.

Matius 5:16 mengatakan bahwa kebaikan kita harus dapat dilihat serta dirasakan orang lain, dan setelah itu, hasil akhirnya adalah bahwa mereka yang telah melihat dan merasakan kebaikan kita, memuliakan Bapa kita di sorga. Ya, memuliakan Allah Bapa, bukan memuliakan diri kita. Berhati-hatilah pada godaan untuk disanjung tinggi karena kebaikan yang telah kita lakukan. Iblis sangat pandai menjerat kita dengan kesombongan. Semoga kita terhindar darinya. (em)

DOA: “Bapa, bila aku melakukan apa yang baik, itu semua hanya karena-Mu. Biarlah terang yang terpancar dari diri ini memuliakan-Mu saja, dan hindarkanlah aku dari godaan kesombongan. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2vE1yag

Untuk yang Sakit

Posted On Agustus 6, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Yesaya 40:31
Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Sama sekali tidak ada keraguan bahwa bilur-bilur Yesus sanggup menyembuhkan dengan sempurna. Tetapi adakalanya sebagai hamba Tuhan kita mengerti, Tuhan hendak menjemput seseorang melalui penyakit. Saat di mana seseorang disengsarakan oleh penyakit hingga waktu ia dipanggil pulang adalah saat-saat krusial. Betapapun hebatnya iman seseorang, saya mendapati penyakit kritis dapat menggoncangkan iman mereka.

 Sedih dan sungguh memilukan bila kita mendapati seseorang mengutuki Tuhan karena penyakit yang dideritanya kemudian pergi dalam kemarahannya. Kita semua tahu ke mana ia akan berlabuh. Ingat baik, bukan langkah pertama yang menentukan tetapi langkah terakhir.

Itulah sebabnya penting untuk seseorang ada di samping mereka yang hendak pulang. Seseorang yang mampu untuk memberitahu mereka yang sakit untuk menanti-nantikan Tuhan dan berhenti mengeluh.

Menantikan Tuhan di sini tidak hanya bermakna menunggu perjumpaan dengan Tuhan, tetapi juga tetap teguh berharap pada Tuhan atau tetap memiliki iman. Bukankah firman-Nya pernah berkata, “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” (Ibrani 10:35,36,38)

Ketika seseorang menantikan Tuhan atau tetap memiliki iman, Tuhan berjanji untuk memberikan kekuatan agar tidak menjadi lesu dan lelah. Mereka tetap akan memiliki damai sejahtera hingga hari mereka tiba.

Siapapun yang membaca renungan ini, saya mendorong Saudara untuk melihat kebutuhan ini pada setiap sesama kita yang sementara bergumul dengan penyakit keras mereka. Ajaklah mereka untuk menantikan Tuhan, untuk tetap memiliki pengharapan kepada Kristus. Agar mereka tidak menjadi lesu dan kelelahan dengan penyakit mereka. Agar mereka menjadi kuat, terhibur, penuh dengan damai sejahtera Allah. Bersediakah Saudara? (tw)

DOA: “Tuhan berilah aku kemampuan untuk melihat kebutuhan mereka yang sakit selain akan kesembuhan. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2vsQk8Y

Jangan Galau

Posted On Agustus 5, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Mazmur 62:2
Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.

Ada kalanya ketika berkendara, kita merasa tidak tenang atau  kepikiran ketika indikator bahan bakar sudah mendekati kosong. Selama dalam perjalanan, pastilah teringat-ingat harus mampir ke stasiun pengisian bahan bakar. Hal sebaliknya terjadi setelah tangki bahan bakar terisi penuh, mau jalan kemanapun rasanya tidak ada beban pikiran lagi.
Banyak orang galau dan kepikiran ketika belum menemukan jodoh, belum mendapat pekerjaan, belum melunasi tagihan, belum sembuh dari penyakitnya, dll. Seringkali mereka merasa akan mendapatkan ketenangan apabila kebutuhan mereka terpenuhi. Bahkan ada orang-orang yang berusaha mencari ketenangan melalui barang-barang, hiburan, liburan, atau uang.

Tetapi Alkitab menulis bahwa rasa tenang itu hanya kita dapat saat kita dekat dengan Allah. Bukan apa yang ada di dunia ini yang bisa menjadikan kita tenang. Karena hidup ini adalah pergumulan yang tiada henti, masalah pun datang silih berganti. Satu masalah selesai, bisa muncul masalah lain lagi.

Ketenangan yang hakiki adalah saat kita dekat dengan Allah pencipta alam semesta ini. Saat kita tahu bahwa Tuhan ada bersama kita, itu akan mendatangkan ketenangan bagi kita. Jangankan soal kebutuhan hidup, situasi bahaya pun akan dapat kita hadapi dengan penuh ketenangan bila kita berjalan bersama dengan Tuhan.

Saya percaya semua semua manusia mendambakan rasa tenang dalam hidupnya. Bersyukurlah kita sebagai umat percaya, karena kita memiliki Allah yang hidup sumber pengharapan dan pemberi rasa tenang yang sejati. Jangan galau tetapi dekatlah pada Tuhan! (ba)

DOA: “Hanya dekat pada-Mu ya Tuhan kurasakan ketenangan. Biarlah aku selalu berjalan bersama-Mu. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2v7znOP

« Laman SebelumnyaLaman Berikutnya »