Ketakutan dan Kesukaan Besar

Posted On September 20, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Matius 28:8
“Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus.”
()

Maria dan beberapa orang wanita yang pergi bersamanya mengunjungi tempat pemakaman Yesus, tidaklah mengharapkan sambutan yang mereka terima di kubur. Mereka datang pada waktu dini hari untuk membalurkan rempah-rempah pada tubuh Teman mereka—tanpa mengetahui bagaimana caranya untuk masuk ke dalam kubur. Namun pada saat mereka dekat kubur, mereka tercengang karena melihat batu besar telah tergeser dari lubangnya. Bahkan yang lebih menakjubkan, mereka melihat seorang malaikat sedang duduk di atasnya.

Tidaklah mengherankan jika mereka merasakan takut dan takjub. Akan tetapi mereka juga merasakan sukacita yang besar setelah malaikat itu mengundang mereka masuk untuk melihat ke dalam kubur kosong, dan kemudian menyuruh mereka untuk pergi dan memberitahukan kepada para murid yang lain, bahwa Yesus telah bangkit.

Hampir 2000 tahun setelah pemberitahuan pertama tersebut, kita para pengikut Yesus juga memiliki perasaan yang tak menentu dalam membagikan berita baik seperti itu. Kita merasakan sukacita yang besar karena Yesus hidup, tetapi juga merasakan ketidaknyamanan di dalam menceritakan tentang Dia kepada orang lain. Para wanita merasa takjub karena melihat dan mendengar seorang malaikat di pintu kubur, tetapi ketakutan kita berbeda. Kita takut akan apa yang orang lain mungkin pikirkan tentang kita ketika kita memberitahukan mereka bahwa Yesus telah bangkit. Namun sama seperti Maria dan wanita lainnya, kita memiliki tanggung jawab untuk memberitahukan orang lain tentang kabar baik. Roh Allah akan menolong kita untuk mengatasi ketakutan dan membagikan sukacita kita yang besar.

—JDB

Kabar baik tentang kebangkitan terlalu baik untuk disimpan bagi diri kita sendiri.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2xkNjHS

Iklan

Masihkah Ada Harapan?

Posted On September 19, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Matius 28:6
“Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit , sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.”
()


Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar, sejumlah wanita pergi ke kubur Yesus membawa rempah-rempah yang telah mereka siapkan untuk jasad Yesus (Mat. 28:1; Luk. 24:1). Setibanya di sana, mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu dan ada seorang malaikat. Kata malaikat itu kepada mereka, “Janganlah kamu takut” (Mat. 28:5). Mereka tidak perlu merasa takut karena kosongnya kubur itu atau kepada sang malaikat, karena malaikat itu membawa kabar baik untuk mereka.

Harapan dalam hati saya pun bangkit saat saya mendengar perkataan selanjutnya, “Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya” (ay.6). Karena Yesus telah hidup kembali, maut pun sudah ditaklukkan! Yesus mengingatkan para pengikut-Nya hanya beberapa hari sebelum kematian-Nya, “Sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup” (Yoh. 14:19).

Meski merasa sedih karena kehilangan orang yang kita kasihi, kita mendapat pengharapan melalui kebangkitan Yesus dan janji yang diberikan-Nya akan adanya kehidupan setelah kematian.

Sebab Dia hidup, kita pun hidup.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2haYtt7

Keajaiban Salib

Posted On September 18, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Ibrani 12:2
“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”
()

Alkitab menceritakan tentang sebuah salib yang jauh lebih mengagumkan, yaitu salib Kristus. Ketika memandang bintang-bintang, kita melihat karya tangan Sang Pencipta; tetapi ketika memandang salib, kita melihat Sang Pencipta mati bagi ciptaan-Nya. Ibrani 12:2 memanggil kita untuk mengarahkan mata kita tertuju “kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”

Yang menjadi keajaiban dari salib Kalvari adalah ketika kita masih berdosa, Sang Juruselamat telah mati bagi kita (Rm. 5:8). Mereka yang beriman kepada Kristus kini diperdamaikan dengan Allah, dan Dia memimpin sepanjang hidup mereka (2Kor. 1:8-10).

Pengorbanan Kristus di kayu salib merupakan keajaiban terbesar yang pernah ada!

Salib Kristus menyediakan satu-satunya jalan yang aman menuju kekekalan.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2f32HPa

Pohon yang Bermakna

Posted On September 17, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

1 Petrus 2:24
“Sebab: ‘Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur . . .’”()

Salah satu sajak Kristen paling awal dalam sastra Inggris diberi judul “The Dream of the Rood” (Mimpi Si Salib). Kata rood berasal dari kata dalam bahasa Inggris kuno yang berarti batang atau tiang dan itu mengacu pada salib tempat Kristus disalibkan. Dalam sajak kuno itu, kisah penyaliban Yesus diceritakan kembali dari sudut pandang si kayu salib. Awalnya ketika pohon sumbernya tahu bahwa kayunya akan digunakan untuk membunuh Anak Allah, ia menolak dipakai untuk maksud tersebut. Namun akhirnya Kristus melibatkan pohon itu untuk menyediakan penebusan bagi semua orang yang percaya.

Di taman Eden, ada sebatang pohon yang menjadi sumber dari buah terlarang yang dinikmati oleh nenek moyang pertama kita, yang membuat dosa memasuki kehidupan umat manusia. Dan ketika Sang Anak Allah mencurahkan darah-Nya sebagai pengorbanan terbesar untuk menebus dosa seluruh umat manusia, Dia dipakukan pada kayu salib demi kita. Kristus “telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib” (1Ptr. 2:24).

Salib merupakan titik balik bagi semua orang yang percaya kepada Kristus untuk mendapatkan keselamatannya. Sejak penyaliban Kristus, salib telah menjadi simbol luar biasa dari kematian Sang Anak Allah demi kebebasan kita dari dosa dan kematian. Salib menjadi bukti yang begitu indah dan tak terkatakan tentang kasih Allah bagi kita.

Kristus menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib demi keselamatan kita.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2f2JKfE

Tertikam Bagiku

Posted On September 16, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Yesaya 53:5
“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan  kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh”()

Seorang pria yang sangat terusik dengan dosanya sedang memimpikan sesuatu yang terbayang begitu nyata. Dalam mimpinya ia melihat Yesus dicambuk dengan keji oleh seorang serdadu. Ketika ujung cambuk yang berduri mendera punggung Kristus, pria itu merasa ngeri, karena cambuk keji itu meninggalkan luka menganga yang mengerikan pada badan-Nya yang bengkak dan berdarah. Ketika serdadu itu mengangkat tangannya untuk mencambuk lagi, pria itu segera maju untuk menghentikannya dan serdadu itu menoleh ke arahnya. Pria yang bermimpi itu terkejut karena ia sedang menatap wajahnya sendiri!

Pria itu pun terbangun dengan keringat dingin, menyadari bahwa dosanya telah mengakibatkan hukuman yang memilukan terhadap Juruselamat. Ketika membayangkan penderitaan Kristus, ia teringat Yesaya 53:5, “Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepada-Nya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”

Sungguh luar biasa, Tuhan Yesus Kristus menderita dan mati untuk menebus dunia berdosa yang terhilang! Dia tertikam oleh pemberontakan kita. “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri”, tetapi terpujilah Allah karena, “Tuhan telah menimpakan kepada-Nya kejahatan kita sekalian” (Yes. 53:6).

Di satu sisi, Jumat Agung adalah hari terkelam dalam sejarah manusia. Namun karena pengorbanan Yesus bagi kita, salib merupakan kemenangan terbesar di segala abad!

—HGB

Kristus diserahkan karena dosa kita agar kita bisa dilepaskan dari dosa kita.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2x62bIB

Harga Tiket Masuk

Posted On September 15, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Roma 3:24
“Oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”()

Berapa biaya yang diperlukan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah? Anda dapat masuk dengan cuma-cuma karena Yesus Kristus telah membayar harganya bagi kita dengan kematian-Nya. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Rm. 3:23-24). Ketika kita mengakui kebutuhan rohani kita dan menerima pengampunan Allah atas dosa-dosa kita dengan iman, kita pun memiliki hidup baru yang kekal di dalam Dia.

Hari ini Anda dapat memasuki kehidupan yang baru, karena melalui kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari kematian, Yesus telah membayar harga tiket masuknya!

Yesus membayar harganya agar kita dapat memasuki Kerajaan Allah.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2x3SgDg

Kasih Bapa

Posted On September 14, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

1 Yohanes 3:1
Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. ()

Rasul Yohanes dalam 1 Yohanes 3:1 meminta kita supaya melihat betapa besarnya kasih Bapa kepada kita. Karena kasih-Nya maka kita disebut anak-anak Allah. Dan kita memang anak-anak Allah. Di sinilah kita pun perlu belajar tentang cinta Allah, cinta-Nya yang tak terukur dan kualitas-Nya berbeda dengan cinta manusia.

Sudah puluhan tahun saya mengajar di Sekolah Alkitab di kota Batu-Malang. Ada satu kisah yang masih saya ingat tentang cinta sepasang suami-isteri yang masuk sekolah Alkitab saat itu. Sang suami sangat mencintai isterinya. Saat isteri sakit ia terus berdoa dan menyatakan cintanya, namun isterinya meninggal. Saking sedih, suami menyatakan mengapa isteri yang duluan pergi bukan dirinya saja. Ketika pemakaman tiba, ia bahkan ingin masuk duluan ke dalam kubur biar mati bersama. Enam bulan kemudian si suami menikah lagi. Itulah cinta manusia, cintanya bisa hilang seperti uap.

Cinta Allah kepada kita tidak ada ukurannya. Kalau kita percaya Yesus, menerimanya sebagai Juruselamat, maka kita menjadi anak Allah. Sekarang kita adalah anak-anak Allah, namun kita bisa berubah dan beralih jadi non-Kristen sehingga tidak percaya Allah dan tidak lagi menjadi anak-Nya. Untuk itu kita perlu setia kepada Allah. 1 Yohanes 1:2 menyatakan bahwa belum nyata apa keadaan kita kelak, tetapi apabila Kristus menyatakan diri, membuka rahasia diri-Nya, kita menjadi sama seperti Dia dan melihat rupa Kristus yang sebenarnya. Sekarang kita mengenal dan melihat-Nya lewat firman.

Yesus datang  ke dalam dunia untuk menolong kita menjadi anak-anak Allah. Sekarang kita memang belum melihat Dia yang sebenarnya. Kelak Dia akan memperlihatkan diri dan mengangkat orang percaya yang cinta dan setia kepada-Nya ke surga, untuk ketemu dengan Bapa. Saat itu kita akan diubahkan sama seperti Dia. Inilah saat istimewa, saat sekarang kita menjadi anak Allah, karena suatu kali Dia akan membawa kita tinggal bersama selamanya untuk menikmati cinta-Nya. Tak ada lagi sakit, penderitaan dan kematian di sana. (ahm)    

DOA: “Terima kasih, Bapa, buat cinta-Mu yang tak terukur dalam hidupku. Aku mau setia mengiring-Mu, sampai tiba waktu-nya Engkau membawaku tinggal bersama-Mu di sorga. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2x2YBRd

Jangan hanya kata orang

Posted On September 13, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Ayub 42:5
Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

Sehebat hebatnya kesaksian orang lain hidup bersama Tuhan, pasti lebih hebat pengalaman kita sendiri, itu sebabnya bacalah Firman Tuhan setiap hari agar kita bisa mengalaminya sendiri.

2 Timotius 3:16  Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Dalam keadaan tertentu kita tidak bisa meminjam iman orang lain, untuk menemukan solusinya kita harus memperkatakan perbendaharaan Firman yang ada dalam hati kita.

2 Korintus 4:6  Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.

Tanpa pengetahuan dan pengenalan pribadi dengan Tuhan, kita akan sangat sulit untuk mengalami Tuhan, rasanya Dia begitu jauh, sehingga kita merasa seolah olah Dia tidak perduli dengan kita.

Amsal 2:5  maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.

Berusahalah sungguh sungguh untuk mngenal Tuhan, sebab FirmanNya membuat  iman kita semakin teguh dan  kuat.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2w6VVDa

Kalah untuk Menang

Posted On September 12, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

*Mazmur 37:6*
“Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang”

Ketika James E. Rogan menjadi wakil rakyat yang mewakili sebuah distrik di California, AS, ia dihadapkan pada keputusan yang sangat penting. Ia terpilih dengan selisih suara tipis di suatu wilayah yang biasanya memilih anggota partai yang lain. Saat itu sebuah persoalan umum yang menyangkut tindakan moral tengah dipertimbangkan. Jika ia menuruti kata hatinya, ia bakal tak terpilih kembali. Namun jika ia menyatakan setuju sesuai dengan kondisi politik yang ada, kemungkinan besar ia akan terpilih lagi.
Akhirnya wakil rakyat itu lebih memilih kata hatinya dan menyuarakan apa yang menurut suara hatinya benar. Akibatnya, ia tidak terpilih kembali. Ia berkata, “Kekalahan ini memang menyakitkan. Namun saya tak pernah menyesali keputusan saya …. Memang mudah bagi seorang wakil rakyat untuk berpikir bahwa mereka lebih baik tetap mempertahankan jabatan. Namun sesungguhnya mereka kehilangan sesuatu yang lebih besar … yakni kemampuan untuk memimpin.”

Sebagai pengikut Kristus, kita diperintahkan untuk hidup sesuai prinsip-prinsip Alkitab. Sering kali, hal itu memaksa kita untuk mengorbankan ketenaran dan kesuksesan. Kebenaran jauh lebih mahal dari kebohongan, keyakinan lebih mahal dari kenyamanan, kejujuran lebih mahal dari kecurangan.


Saat ini, mungkin dunia tampak menang, sedangkan orang-orang kristiani kalah. Namun kita harus ingat bahwa “orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan … akan mewarisi negeri” (Mazmur 37:7-9). Ketika kita melakukan apa yang benar, kita akan mendapat perkenan Tuhan.
*KALAH TIDAK SELALU BERARTI GAGAL*
Semangat Pagi dan God Bless
New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2wTNpae

Menjaga Nama Baik

Posted On September 11, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Amsal 22:1
Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.  ()

Saat seorang pejabat negara ditanya apa alasannya sehingga begitu berani memiliki sikap berbeda walau risikonya berat, baik untuk karirnya maupun keluarga, ia memberi jawaban demikian. “Saya tidak ingin seumur hidup dikenang orang karena perbuatan negatif. Dalam agama saya Yesus  mengajarkan harus berani benar memilih kebenaran.”
Tegas memilih berpihak pada kebenaran memang mengandung risiko, sebab nyawa kita bisa terancam kalau pilihan tersebut akan menyeret seseorang menerima sanksi atau hukuman. Tetapi pengikut Kristus harus berani memilih kebenaran, sekalipun mungkin itu akan menjadi ‘salib’ baginya. Firman Tuhan malah menasihatkan kita untuk membeli kebenaran dan jangan menjualnya (Amsal 23:23), sebab suap bisa membungkam seseorang sehingga menjual fakta kebenaran yang sesungguhnya. Mengapa kita harus memilih kebenaran? Sebab pilihan yang baik berdampak pada nama baik.
 
Tak heran jika untuk sebuah reputasi orang rela membayar mahal, entah guna menaikkan pamor atau karena takut nama baiknya tercoreng saat kejahatannya terungkap. Malah ada yang nekad melancarkan intimidasi terhadap orang lain demi reputasi terjaga. Nats kita hari ini pun menunjukkan bahwa kekayaan tak akan ada artinya tanpa dibarengi dengan nama baik.

Bagaimanakah mungkin kita abaikan nama baik, sementara perbuatan kita menempel pada nama baik dan hal itu mendatangkan berkat bagi sesama? Waktu Dorkas meninggal, banyak orang yang menangisinya. Mereka terkenang perbuatannya, yang ternyata banyak membantu orang dan suka bersedekah (Kisah Rasul 9:36-39). Amsal 10:7 berkata, “Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk.”

Jangan remehkan sikap serta cara hidup kita sekarang  dan sampai Tuhan memanggil kita pulang. Nama baik yang terjaga karena melakukan hal-hal yang benar dan terpuji, memberkati orang lain. Nama harum orang-orang percaya  meninggalkan kenangan indah yang juga memuliakan nama Tuhan. (lr)

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2gVmKU4

Laman Berikutnya »