Kudus Bagi Tuhan

(Zakharia 14:20-21)
“Pada waktu itu akan tertulis pada kerencingan-kerencingan kuda: “Kudus bagi TUHAN!”
…. Maka segala kuali di Yerusalem dan di Yehuda akan menjadi kudus bagi TUHAN
semesta alam;…..”
Kisah Yesus masuk bait Allah kali kedua di Yerusalem sebelum melanjutkan misi ke kayu salib kita ketahui, tetapi sadarkah ada kehadiran Yesus ke TIGA dalam Bait Allah di Yerusalem untuk “membersihkan” bukan hanya Bait Allah tetapi semua kuali, perkakas, bokor-bokor penyiraman di depan mezbah akan dibersihkan hingga semuanya menjadi KUDUS BAGI TUHAN!

Target Allah juga ditujukan kepada kita orang-orang yang lebih dahulu ada dalam Bait Allah. I Petrus 4:17 menuliskan: “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah.” Kitalah yang pertama -tama dibersihkan melalui penghakiman Allah. Ya, kita juga yang telah melihat betapa kotornya “meja-meja Roti Sajian”, yang telah kotor dengan muntah dan kotoran(Yesaya 28:8).

Dari dalam Bait Allah terdengar khotbah-khotbah keras bukan karena cambuk Allah. Tetapi kekesalan hati yang dibiarkan mencemarkan banyak hati pendengar. Penyampaian Firman yang terkesan tepat walau tidak melalui mimbar untuk mendapatkan kebutuhan dengan pakaian pelayanan. Atau kemunafikan lainnya yang tergambar dengan jelas di mata Allah dari kita orang-orang yang terdahulu ada di dalam Bait Allah.

Tetapi sungguh Allah tidak akan biarkan semua hal najis itu terus berlanjut. Allah pasti akan bertindak. Tangan Allah sendiri akan MEMBANGUN DAN MENYAYANGI SION, sehingga orang hanya dapat berkata bersama para seraphim (Yesaya 6:3) KUDUS BAGI TUHAN, Kidung indah dari mulut yang diurapi, tepuk tangan semarakkan tempat kudus Allah, kitapun ada disana.(LR)

Doa: Tuhan Yesus,ampuni segala kenajisanku. Aku mau berubah, agar ketika Engkau menguduskan  Bait  Allah  Engkau  dapati  aku  kudus.  Amin.

Sumber : Renungan Harian Suluh Iman ( suluh_iman@ekklevision.org)

New seven Generation's artikel

from Blogger http://bit.ly/2PB1NhR

Bersungguh-sungguh Dan Tulus Ikhlas

(Filipi 4:6)
nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
Pdt. Paul R. van Gorder, berkisah tentang sahabatnya yang suatu hari membawa anak lelaki kecilnya ke kota berbelanja beberapa keperluan. Saat tiba lunchtime, keduanya pergi ke kedai makan. Sang ayah duduk pada salah satu kursi serta mengangkat anak lelakinya dan mendudukkannya berdampingan. Mereka lalu memesan makan siang. Ketika waiter membawa sandwich yang dipesan, ayah berkata, “Nak, kita berdoa dalam hati , ya ..!” Si ayah mengawali berdoa, dan .. menunggu sang anak menyelesaikan doanya; namun anak laki-lakinya itu tetap duduk dengan kepala tertunduk untuk waktu terbuang yang cukup lama. Ketika pada akhirnya ia mengangkat kepalanya, ayahnya bertanya kepadanya, “Apa saja yang kamu doakan selama waktu yang panjang itu?” Dengan polos dan perasaan tak bersalah sebagai seorang anak kecil, ia menyahut, “Bagaimana saya tahu? Itu tadi ‘kan doa dalam hati!”

Saya punya dugaan kuat, bahwa banyak dari doa kita seperti anak kecil itu, apakah dalam hati (silent prayer) ataupun dengan suara keras (aloud prayer) . Kita sesungguhnya tidak berkata apapun kepada Tuhan. Bisa saja kita memunculkan beberapa kata indah yang tersusun rapi dalam benak kita, tapi itu bersifat pengulangan(bertele-tele=vain repetitions – Matius 6:7) dan tidak dengan tulus hati. Allah Bapa rindu mendengar dari kita doa yang bersungguh-sungguh(earnest), doa dengan sepenuh hati(heartfelt prayer); didorong oleh Roh Kudus serta dipersembahkan di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus. Begitu pula dengan pujian penyembahan kita! Lakukan dengan bersungguh- sungguh dan dengan segenap hati dan pikiran kita. Hasilnya, menurut Rasul Paulus, ialah “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:7)

Saudara seiman, kita sangat perlu memuji dan menyembah-Nya dengan serius! Tidaklah cukup sekedar menutup mata, menundukkan kepala kita, dan mengulangi kata-kata tertentu yang sedap didengar. Requests kita wajib segaris dengan Perkataan Tuhan dan itu harus datang dari hati yang tulus ikhlas!(NVDK)

Doa: Tuhan Yesus segala pujian, hormat dan syukur kunaikkan padaMu dari dalam hatiku, tulus sebab Engkau sungguh amat baik bagiku. Amin.

Sumber : Renungan Harian Suluh Iman ( suluh_iman@ekklevision.org)

New seven Generation's artikel

from Blogger http://bit.ly/2Q3eEbL

Rendah Hati Dan Selamat

(Yohanes 3:16)
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Saat Tuhan Yesus tergantung di kayu salib. Pada detik-detik menghadapi kematian, ada 2 orang berdosa di kiri dan kanan Tuhan Yesus. Yang satu tetap dengan keangkuhannya, tetapi yang satu lagi menyadari betapa ia sangat berdosa. Ia merendahkan hati memohon belas kasih dari Tuhan. Akhirnya ia diselamatkan pada detik-detik terakhir.

Terkadang kita sering memaksakan diri untuk membuat orang lain datang pada Tuhan, dengan menggunakan cara kita. Mungkin kita pikir itu cara terbaik. Tetapi tanpa disadari kita malah menjadi batu sandungan untuk orang lain. Coba kita renungkan, saat kedua penjahat tergantung di kayu salib bersama dengan Yesus, salah satu dari mereka berbicara dengan keangkuhan. Yesus tidak menjawab apapun juga. Tetapi ketika satu orang lagi berbicara dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati, Yesus dengan penuh ketegasan dalam kasihNya berbicara, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”(Lukas 23:43).

Hal seperti ini yang Yesus inginkan, membawa jiwa datang pada Yesus tidak memerlukan kepintaran, tidak membutuhkan status sosial dan tidak membutuhkan banyak harta. Tetapi yang dibutuhkan membawa Yesus dalam hidup kita. Agar jiwa-jiwa yang kita temui dapat melihat betapa ajaib Yesus.

Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma yang dikerjakan Yesus dengan pengorbanan hidupNya. Karena itu apabila ada jiwa yang datang pada Yesus, itu bukan karena kita. Tetapi karena kasih dan kemurahan yang Tuhan kerjakan atas kehidupan orang itu. Siapa kita di hadapan Tuhan? Kita hanya segenggam tanah liat yang diberikan nafas kehidupan. Dalam I Korintus 3:1-23, Rasul Paulus menjelaskan hanya orang- orang yang tidak dewasa rohani saja yang memegahkan diri.

Dari apa yang Tuhan percayakan untuk kita lakukan dalam membawa jiwa datang pada Tuhan, biarlah kita lebih mengutamakan Yesus dalam setiap langkah hidup kita. Biarlah Yesus semakin besar dan kita semakin kecil .( Yohanes 3:30) HALELUYA . ( WB)

Doa: Ya Tuhan, berilah kami hati yang selalu meninggikan Engkau dalam setiap melayaniMu. Sehingga kami tidak mengecewakan hatiMu. Amin.

Sumber : Renungan Harian Suluh Iman ( suluh_iman@ekklevision.org)

New seven Generation's artikel

from Blogger http://bit.ly/2FpnpsE

Demi Kemuliaan Tuhan

(Roma 14:8)
“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.”


Kalau kita melihat jarak antara kejatuhan Adam hingga terjadinya air bah berdasarkan silsilah yang ditulis Musa maka ada sepuluh generasi dari Habel sampai Nuh. Dalam masa sepuluh generasi itu ternyata kecenderungan hati manusia hanya menghasilkan kejahatan semata. Kondisi moral manusia pada masa itu sedemikian bobroknya. Tetapi Nuh dianggap orang yang benar dari antara orang-orang sezamannya.

Tuhan akhirnya mengirimkan air bah sebagai bentuk penghukuman atas dunia dan hanya menyelamatkan Nuh dan seluruh keluarganya dengan bahtera yang diperintahkan Tuhan untuk dibangunnya. Peradaban ‘modern’ yang diagung-agungkan waktu itu lenyap seketika.

Jika kita mau jujur dan kritis menelaah peristiwa masa purba, itu tidak lebih merupakan gambaran kecil atau sebuah potret apa yang akan terjadi di masa depan dunia ini. Di sinilah makna peristiwa air bah itu bagi kita yang hidup di zaman ini (Luk. 17:26-27; Mat. 24:37-39). Spirit zaman yang disebutkan sebagai zaman modern ini, prinsipnya tidak beda jauh dengan zaman Nuh. Tuhan tidak dapat ditipu dengan kamuflase peradaban yang tampak maju. Allah selalu melihat esensi di balik peradaban itu, bukan bentuk peradabannya sendiri.

Peradaban maju tidak bertentangan dengan esensi kekudusan Allah yang berdaulat. Yang bertentangan adalah jika terjadi pengkultusan atau sikap mental yang melawan kedaulatan Allah di dalam dan melalui peradaban itu sehingga bukan Tuhan yang mendapat tempat pujaan. Sungguh benar nasihat Salomo bahwa “Takut akan Tuhan awal dari segala hikmat dan pengetahuan” (Amsal 1:7). Artinya segala potensi yang berkembang maju haruslah tetap dalam kerangka atau bingkai kekudusan dan rasa hormat kepada Tuhan, dan semata-mata hanya untuk kemuliaan Tuhan, lain tidak.

Hal ini akan terlihat dari gaya dan pola hidup kekristenan kita. Apakah kita masih menempatkan hal duniawi sebagai hal terutama yang kita pertahankan, atau mengelolanya semata-mata untuk kemuliaan Tuhan? (1 Kor. 10:31).Happy valentine Day!(SRS)

Doa: Tuhan Yesus aku tidak akan biarkan peradaban modern menjadikan aku tak bermoral di hadapanMu. Standar moralku hanya FirmanMu. Amin.

Sumber : Renungan Harian Suluh Iman ( suluh_iman@ekklevision.org)

New seven Generation's artikel

from Blogger http://bit.ly/2Q467W0

Menyeberang Garis Iman

(Roma 4:19-20)
Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia (Abraham) mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, ….. Tetapi  terhadap  janji  Allahia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah  ia  diperkuat dalam  imannya dan ia memuliakan Allah.

Setelah bertahun-tahun hidup dengan iman, ada hal yang saya pelajari untuk dilakukan, yang menolong saya untuk menerima apapun dari Tuhan, dalam keadaan yang paling berat. Itulah yang saya sebut menyebrangi garis iman. Sebuah garis iman adalah apa yang Anda butuhkan ketika Anda ingin Allah melakukan hal yang mustahil di dalam hidup Anda. Garis iman adalah apa yang Anda butuhkan ketika Anda ingin teguh di dalam iman, tetapi Anda terus-menerus maju mundur antara keadaan Anda dan janji-janji Allah.

Garis iman itu akan menjadikan Anda seperti Abraham yang setia. Anda tahu, Abraham mempunyai alasan-alasan masuk akal untuk tidak mempercayai janji Allah sama seperti kita. Namun ia tahu untuk mewujudkan janji Allah atas hidupnya, tidaklah memerlukan akal sehat. Bahkan Alkitab berkata iman Abraham tidak menjadi lemah walaupun tubuhnya sangat lemah. Dengan kata lain, Abraham mengabaikan bukti alamiah yang mengelilinginya dan percaya hanya kepada janji Allah.

Di suatu tempat ia menyebrangi garis iman. Ia membuat keputusan bulat untuk mempercayai janji Tuhan. Ia membuat komitmen terakhir. Ia memilih melangkah ke titik di mana ia tidak akan mundur lagi. Dan jika Anda ingin melihat Allah melakukan sesuatu yang mustahil, Anda harus melakukan hal yang sama!

Bagaimana Anda menggambar garis iman? Mulailah dengan Firman Tuhan. Selidiki janji- janji Tuhan dan percayalah kepada apa yang dikatakanNya tentang kebutuhan Anda. Renungkan janji-janji itu sampai timbul iman di dalam hati Anda. Tulislah di lantai ruangan doa Anda. Katakan, “Di hadirat Tuhan, di hadapan seluruh malaikat di ruangan ini, dan di muka para setan, saya melangkahi garis iman. Sejak saat ini dan seterusnya, saya anggap hal ini telah selesai. Sejak hari ini, saya memberikan kepada Allah pujian dan kemuliaan di dalam Nama Yesus.”

Sejak saat ini dan seterusnya, katakanlah seolah-olah mujizat telah terjadi. Buanglah setiap masalah dan keraguan, arahkan wajah Anda kepada Yesus. Allah akan melakukan hal yang mustahil di dalam hidup Anda. Beranikan diri untuk melangkahi garis iman.(DPM)

Doa: Tuhan Yesus aku akan melangkah melewati garis iman untuk mendapatkan pertolongan atas semua yang kuperlukan. Amin.

Sumber : Renungan Harian Suluh Iman ( suluh_iman@ekklevision.org)

New seven Generation's artikel

from Blogger http://bit.ly/2DkR8Au

Doa Yang Tidak Pernah Di Cancel

(Yohanes 15:7)
“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”

Ketika saya mengikuti acara doa hari Kamis malam, Pengkhotbah yang membawakan renungan pada malam itu berbicara,”Saya pernah bertemu dengan seorang yang sangat sederhana penampilannya. Pada saat dia berdoa, doanya didengar oleh Tuhan dan mendatangkan kuasa. Tuhan tidak meng “CANCEL” doa orang itu.” Lalu saya mulai membandingkan. Saat saya sedang bekerja menggunakan internet, untuk melihat email yang masuk, bila download-nya lama, biasanya saya cancel koneksinya.

Ya benar! Saat hubungan internet bermasalah, saya tidak dapat dengan cepat menyelesaikan pekerjaan saya. Begitu juga dengan doa yang tidak sampai atau di cancel oleh Tuhan. Dalam kebenaran Firman Tuhan dikatakan, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Saat kita tinggal dan menyatu dalam kebenaran Firman Tuhan, maka segala sesuatu yang kita minta pasti akan Tuhan berikan. Syaratnya, hal yang kita minta tidak untuk kepentingan kita sendiri. ” Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.”( Yakobus 4:3)

Saat ini kehidupan di sekitar kita semakin sulit dan jahat. Hanya dengan kekuatan doa saja kita dapat bertahan. Kita harus berusaha untuk tetap terhubung dengan “Hadirat Tuhan”. Karena bila kita selalu terhubung dengan “Hadirat Tuhan” doa kita tidak akan di “CANCEL”. Apakah saat-saat ini kita sedang memiliki kendala dalam hubungan dengan Tuhan? Kalau ya, segera perbaiki dan kita akan melihat bagaimana doa-doa yang kita panjatkan didengar dan dijawab oleh Tuhan.(FT)

Doa: Ya Tuhan, bawa kami untuk lebih dekat lagi kepadaMu dan selalu ada dalam hadiratMu yang membawa damai dan sukacita dalam kehidupan ini. Amin

Sumber : Renungan Harian Suluh Iman ( suluh_iman@ekklevision.org)

New seven Generation's artikel

from Blogger http://bit.ly/2QFWZEl

Harapan Di Tengah Badai

(Roma 12:12)
“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.”

Apakah saat ini Saudara sedang mengalami badai dalam kehidupan? Bagaimana untuk menjadi tegar ketika badai kehidupan sepertinya telah membuat Saudara kehilangan pengharapan? Ada 3 hal penting yang dikemukakan Rasul Paulus supaya kita menjadi orang Kristen yang tangguh dalam menghadapi badai kehidupan, yaitu:

Pertama, bersukacitalah dalam pengharapan. Sukacita ini bukanlah sekadar sukacita biasa, tetapi sukacita dalam pengharapan. Bagaimana untuk bersukacita dalam pengharapan? Sukacita ini adalah sukacita karena saudara tetap berpegang kepada janji Tuhan. Saudara percaya kepada FirmanNya yang terdapat dalam Alkitab. JanjiNya adalah benar dan akan digenapi dalam hidup anak-anakNya, tidak seperti janji manusia yang mudah untuk diingkari. Kalau pun janji itu belum digenapi sekarang, percayalah bahwa pada suatu saat nanti semua yang difirmankanNya pasti akan digenapi.

Kedua, sabarlah dalam kesesakan. Nasihat yang kedua ini agaknya amat berat bagi mereka yang benar -benar sedang berada dalam kesesakan. Kita ingin sekali persoalan kita segera berakhir. Tetapi seringkali Tuhan mendidik kita dalam kesengsaraan supaya kita tahan uji dan menjadi orang Kristen yang berkualitas tinggi. “Bersabarlah!” Tuhan memberikan perintah, tetapi Ia juga memberikan kekuatan dan kesanggupan untuk menghadapi badai itu dengan penuh kesabaran.

Ketiga, bertekunlah dalam doa. Doa bukanlah penghias ibadah atau bagian dari liturgi gereja semata-mata. Doa akan memberikan kekuatan dan kesanggupan kepada saudara untuk bertahan dalam menghadapi badai kehidupan ini. Doa yang dilakukan dalam ketekunan akan mendapatkan jawaban dari Tuhan. Doa adalah nafas kehidupan kita. Bahkan ketika kita sedang berada di dalam lembah kekelaman sekalipun, Tuhan mau mendengarkan doa saudara dan saya. Oleh karena itu, tetaplah bertekun dalam doa. Tuhan pasti akan menyediakan jalan keluar dan kemenangan dari badai kehidupan yang saudara sedang alami. Saudara lebih dari seorang pemenang. (PHM)

Doa: Peganglah tanganku Roh Kudus. Bawalah aku keluar dari tengah badai ini karena  pengharapanku  hanya  ada  di  dalam  Engkau.  Amin

Sumber : Renungan Harian Suluh Iman ( suluh_iman@ekklevision.org)

New seven Generation's artikel

from Blogger http://bit.ly/2z7mlnz