Ketika Dia Periksa Hati Ini

Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya. (Yeremia 17:10)

Waktu kami pulang melayani dari pedalaman Lampung Timur, ketika sampai di pelabuhan Bakauheni dan hendak masuk membeli tiket masuk kapal, saat itu kendaraan yang kami tumpangi diperiksa oleh pihak berwajib karena ada razia Narkoba. Hal itu terjadi bukan terhadap kendaraan yang kami tumpangi saja tapi juga bagi kendaraan lainnya. Bagi kami tidak menjadi masalah karena bukan pemakai atau pengedar narkoba. Namun bagi mereka yang menjadi pengguna atau pengedar, maka pemeriksaan ini sangat menakutkan, sebab petugas memeriksa dengan seksama dan dengan begitu teliti.

Menyelidiki dalam ayat nats di atas, disalin dengan kata “chaqar” yang berarti memeriksa dengan seksama dan teliti. Dapat kita bayangkan jika saat ini Allah memeriksa hati kita, apakah bagi kita ini sesuatu yang menyukakan hati atau menakutkan? Jika kita hidup dekat dengan Tuhan, tentu ini tidak menakutkan, sebab kita diperiksa dengan seksama dan teliti oleh Tuhan untuk diketahui hal-hal yang ada dalam hati ini. Sebelum Tuhan memeriksa hati kita, marilah kita terlebih dulu memeriksa hati kita masing-masing, apakah hati ini berkenan kepada Tuhan atau sebaliknya? Tidak ada manusia yang tahu persis keadaan hati orang lain.

Firman Allah mengajarkan kita, jika hendak mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, kita harus periksa hati ini. Dan bila ada hal-hal yang belum beres, harus dibereskan terlebih dulu supaya persembahan kita diterima oleh Tuhan (Matius 5:23-24). Dalam arti, sebelum Tuhan yang memeriksa hati kita, biarlah kita sendiri yang memeriksa dan membereskannya supaya keadaan hati kita didapati tetap baik dan berkenan.

Perlu kita pahami bahwa jika Tuhan yang memeriksa hati kita, tidak ada yang dapat kita sembunyikan sebab Dia Mahatahu sampai kedalaman hati kita. Biarlah saat Dia memeriksa hati kita, tidak didapati-Nya sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran sebab kita akan menerima akibatnya. Bila masih ada hal yang tak berkenan, mohonlah pengampunan-Nya. (aa)

DOA: “Tuhan Yesus, ampunilah aku sekiranya Kau dapati ada yang tidak berkenan dalam hidupku. Aku mau berubah, dan tolonglah aku untuk melakukannya. Amin.”

 

New seven Generation's artikel

 

Iklan

Kebebasan

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. (1 Korintus 10:23)

Memang benar kita memperoleh kebebasan setelah kita hidup baru dalam kasih karunia Allah. Hanya saja jangan sembarangan menggunakan kebebasan hidup kita tersebut. Contohnya dalam hal makanan. Alkitab mencatat, “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.” (1 Korintus 6:12). Kita harus berhati-hati dan bijaksana untuk memelihara kebebasan hidup kita sehari-hari, supaya bisa memuliakan Allah dengan tubuh kita yang adalah bait Roh Kudus. Apakah yang menjadi tolok ukur sebagai batasan agar tidak kebablasan dalam menggunakan kebebasan hidup kita?

Pertama, jauhilah penyembahan berhala (1 Korintus 10:14). Hidup dalam kasih karunia Allah adalah hidup yang bebas untuk memilih, maka pilihlah untuk menjauhi penyembahan berhala! Segala sesuatu yang kita layani dan prioritaskan melebihi Allah adalah penyembahan berhala! Harta, pekerjaan, bahkan suami, isteri atau anak kita pun bisa jadi berhala, jika kita layani dan prioritaskan mereka melebihi Allah.

Kedua, utamakan hal-hal yang berguna. Dengan memerhatikan hidup kerohanian kita lebih utama dari hal-hal yang hanya berguna bagi jasmani kita. Jika mencari nafkah buat hidup jasmani seperti makanan, minuman, pakaian dll, lakukanlah semua itu untuk kemuliaan Allah (1 Korintus 10:31).

Ketiga, utamakan hal-hal yang membangun! Bangunlah keselamatan kita pribadi, dan juga keselamatan orang lain (1 Korintus 10:33). Utamakanlah untuk melayani dengan cara yang menyenangkan semua orang dalam segala hal, melayani sesama dengan kasih, kerajinan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan sebagainya, dengan fokus hanya ke satu tujuan utama, yaitu supaya semua orang beroleh selamat.

Sahabat, mari gunakan kebebasan kita dengan bijaksana, jangan sampai nama Allah tidak dimuliakan saat kita menikmati kebebasan tersebut. Amin! (gs)

DOA: “Terima kasih, Tuhan, telah mengaruniakanku kebebasan hidup. Berikan aku hati yang bijaksana agar dalam menggunakan kebebasanku ini, nama-Mu tetap selalu dimuliakan. Amin.”

 

New seven Generation's artikel

 

Seni Bertahan


Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. (Matius 10:22)

Sehari-hari saya menggunakan kereta api listrik untuk berangkat kerja. Naik kereta di jam-jam kerja tidaklah selalu bisa mujur mendapatkan tempat duduk. Saya lebih sering harus berdiri karena kalah dalam berebut tempat duduk dengan penumpang lain. Namun tahukah Anda bahwa berdiri di atas kereta yang berjalan selama lebih dari sejam itu membutuhkan seni tersendiri? Ya, seni untuk bertahan tetap berdiri, walau guncangan akibat jalannya kereta terkadang mampu menggeser jauh posisi kaki kita. Belum lagi desakan dari sesama penumpang yang memaksa masuk ke dalam kereta yang sudah penuh sesak. Tapi karena kereta tak mengenal kata “macet” maka kereta tetap menjadi transportasi pilihan terfavorit bagi pegawai kantoran.

Kembali ke kata “seni” untuk bertahan, saya teringat pada kesaksian hidup  Paulus yang luar biasa sulitnya. Bayangkan, dengan penglihatan yang tidak sesempurna sebelumnya, Paulus harus menghadapi banyak tindasan dan keadaan terjepit. Tak jarang juga ia merasa kehabisan akal. Hidupnya teraniaya, terhempas serta terus-menerus diserahkan kepada maut oleh karena imannya pada Yesus (2 Korintus 4:8-14). Tapi Paulus mampu bertahan terhadap semua itu. Bukan karena dia hebat, tetapi karena Tuhan memberinya seni untuk bertahan. Seni yang lahir lewat sesama pelayan di sekitarnya, lewat kesaksian orang-orang percaya di sekelilingnya, juga lewat ingatan akan kematian Kristus.

Hari-hari ini, tak ada yang mudah di dunia ini, sehingga kita bisa bersenang-senang setiap waktu. Sebaliknya, mungkin air mata menjadi sahabat karib kita setiap hari. Penderitaan menjerit di mana-mana. Tak terkecuali dengan hidup kita, meski bentuknya tidak selalu sama. Mari belajar pada Kristus yang pernah berkata, “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11:29-30). Tuhan Yesus juga mengundang kita untuk datang kepada-Nya, menerima kuk yang dipasangkan-Nya serta belajar pada-Nya, untuk akhirnya menang bersama-Nya. (em) 

DOA: “Tuhan, pasangkan aku kuk yang enak itu dan ajarilah aku seni bertahan dalam kehidupan yang tidak mudah ini. Bersama-Mu, aku yakin mampu melewati segalanya. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2K3gUdt

Sebab Ku Alami


Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? (Bilangan  23:19)

Kekristenan itu bukan sekedar teori atau pengetahuan, kekristenan juga menyangkut pengalaman. Kita boleh berdebat berjam-jam tentang kelahiran baru misalnya, tetapi bila kita tidak mengalaminya apalah gunanya. Kita bisa berteriak-teriak meyakinkan orang bahwa bilur Yesus menyembuhkan tetapi bila kita sendiri belum pernah mengalaminya, apakah orang sungguh dapat diyakinkan? Itulah sebabnya tentang Yesus Alkitab bersaksi: “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.” (Matius 9:35)

Kita memang harus bertumbuh dalam pengetahuan akan Firman Allah, tetapi kita juga perlu alami dan membuktikan kebenaran Firman yang tersebar dari Kitab Kejadian hingga Wahyu. Pengalaman akan kebenaran Firman itu bagaikan sebuah panjar dari kebenaran keseluruhan Alkitab. Kita bersama memahami Alkitab selain mengandung janji untuk hidup sekarang tetapi juga berisikan janji untuk kehidupan kekal kelak. Bagaimana mungkin seseorang dapat percaya sorga itu ada, sementara janji Tuhan untuk hidupnya di muka bumi ini ia tidak alami.

Bila Saudara termasuk bilangan orang yang belum pernah mengalami satu saja dari sekian banyak janji Tuhan, maka baca dan resapilah ayat mas kita Bilangan 23:19 baik-baik. Jangan tolak melainkan terima itu. Izinkan Firman itu masuk ke dalam pengertian dan roh Saudara. Kemudian berdoalah, naikkanlah satu permohonan Saudara kepada Tuhan. Sertai permohonan Saudara dengan iman: Allah yang berjanji, Allah pasti menggenapinya. Percayalah pada waktunya Tuhan, Saudara akan mengalami Allah mengabulkan permohonan doa Saudara. Pengalaman tersebut akan membuat Saudara yakin janji Allah yang lain pun pasti Saudara alami, bahkan tidak akan ada lagi keraguan di hati untuk janji-Nya akan kehidupan kekal kelak di sorga mulia. Seperti kidung rohani tempo doeloe melantunkan pujian merdu: Ya ku tahu sbab ku alami, Allahku dan sorga sungguh. Dosaku t’lah diampuni. Allah sungguh ku t’lah jumpa ya ku tahu. (tw)

DOA: “Aku percaya sorga itu ada sebab aku mengalami janji-janji-Mu untuk hidupku sekarang. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2K2APco

Kisah Cintaku dalam Alkitab


Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. (Kidung Agung 8:7a)

Orang bilang, belajar mencintai adalah proses seumur hidup. Kita bisa belajar banyak lewat kisah cinta orang di sekitar kita dan menjadikannya semacam “model cinta” yang kita dambakan. Alkitab juga ternyata memuat cukup banyak kisah cinta yang bisa kita pelajari, bahkan teladani.

Dalam kitab Kejadian, di awal penciptaan, Allah memberi kebebasan kepada Adam untuk memilih pasangan yang “pas” dan paling dicintainya dari seluruh ciptaan Allah, tetapi Adam tidak menemukannya (Kejadian 2:20). Akhirnya Allah menciptakan seseorang yang dibangun dari rusuk Adam sendiri. Dialah jodoh pilihan Tuhan bagi Adam, yang begitu dicintanya (Kejadian 2:21).

Kisah cinta sejati dalam Alkitab bisa kita temukan pada pasangan Yakub dan Rahel (Kejadian 29:20-28). Bayangkan, demi mendapatkan cinta sejatinya, Yakub rela bekerja empat belas tahun lamanya tanpa gaji, asalkan dia bisa  memperisteri Rahel. Betapa bahagianya bila dicintai seperti Rahel, bukan? Alkitab juga menuliskan kisah cinta paling romantis antara Salomo dan gadis Sulamnya. Begitu romantisnya, hingga keduanya saling berbalas puisi cinta dalam kitab Kidung Agung. Puisi-puisi cinta sepanjang masa.

Kisah cinta lainnya dalam Alkitab, yang cocok sekali untuk dijadikan film romantis adalah drama cinta di tengah ladang gandum. Dan tokoh utamanya tentu saja Rut dan Boas. Berawal dari pertemuan di ladang gandum milik Boas, hamparan gandum yang menguning menjadi saksi mulai berseminya cinta mereka. Dari ladang gandum, cinta mereka terus dibawa ke tempat penggilingan gandum hingga ke pintu gerbang kota, dan berlabuh di pelaminan. “Mereka pun hidup dalam cinta untuk selamanya,” begitulah mungkin kalimat akhir yang cocok ditulis, bila kisah cinta Rut dan Boas difilmkan.

Sebenarnya, ada juga kisah cinta yang menyakitkan bahkan tragis dalam Alkitab, tetapi saya lebih suka kita bercermin pada yang sedap didengar. Bukankah Paulus mengajar kita untuk memikirkan semua yang manis dalam
Filipi 4:8? Jadi, pilihlah kisah cinta terbaik Anda dan wujudkanlah! (em)

DOA: “Engkaulah Tuhan yang penuh cinta. Ajarilah aku untuk terus belajar mencintai dari firman-Mu, seumur hidupku. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2HsYBjt

Iman dan Kasih

Kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara. Dan memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu. (2 Tesalonika 1:3)

Pertumbuhan iman dan kasih orang percaya dapat dilihat dari buahnya karena memang demikianlah firman Tuhan yang tertulis: “Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” (Matius 7:20). Keberadaan orang percaya digambarkan seperti sebuah pohon.  Setiap pohon yang baik pasti menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik pasti menghasil buah yang tidak baik pula.

Iman dan kasih adalah kekayaan yang luar biasa yang hanya dimiliki orang percaya. Maksud iman di sini tentu bukan hanya sekadar slogan saja: kalau sudah percaya Yesus pasti punya iman dan selamat. Iman yang sungguh-sungguh adalah iman yang meliputi pertobatan, bukan saja sebatas pengakuan tentang Kristus, tetapi juga suatu tindakan yang terbit dari hati orang percaya secara mutlak mengabdikan diri kepada Yesus Kristus. Inilah yang disebut iman yang menyelamatkan, yaitu berbalik dari dosa dengan penyesalan disertai ketaatan kepada firman-Nya (2 Korintus 7:10).

Paulus bersyukur dan bersukacita melihat jemaat yang ada di Tesalonika karena iman dan kasih mereka antara satu dengan yang lain bertambah. Dunia semakin jahat tapi kita tidak perlu takut. Justru hal itulah yang akan menguji iman dan kasih kita, apakah kuat atau lemah. Kalau dalam dunia saja kenaikan harga-harga barang kebutuhan jasmani semakin hari makin tinggi, apalagi kita orang percaya tentu tidak mau kalah. Semua harga boleh naik, termasuk harga sembako dan barang-barang lain. Namun yang terpenting, iman dan kasih kita tidak boleh berkurang, melainkan harus bertumbuh lebih besar dan bertambah terus sampai mencapai iman yang sempurna.
         
Rasul Paulus dapat mengungkapkan bahwa iman dan kasihnya berlimpah dalam Kristus Yesus (1 Timotius 1:14). Walaupun Paulus merasa dirinya yang paling berdosa, tapi ia dapat menjadi contoh bagi jiwa-jiwa yang diselamatkan dan mendapat hidup yang kekal. Maukah kita ketinggalan? Iman dan kasih kita bukan hanya sesaat! Tapi harus bertumbuh dan nyata dalam bertindak dan bersikap secara berkesinambungan, dan dikuatkan oleh Kasih Tuhan.(gl)

DOA: “Terima  kasih Yesus, atas kasih karunia-Mu yang menyelamatkan aku, dan memberikan iman kepadaku untuk mengalahkan dunia ini. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2qFWzlv

Kalau Bukan Kasih


Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu. (Amsal 19:17)

Kasih memungkinkan semua terjadi. Begitulah yang Allah, melalui Yesus Kristus, lakukan bagi kita. Lirik lagu lawas berjudul “Kalau Bukan Kasih” memberikan gambaran kepada kita alasan Yesus berkorban dan apa yang Ia lakukan. “Dia tinggalkan Surga Mulia. Dia tahu apa kan jadi. Di Bukit Golgota yang sunyi Dia s’rahkan hidup-Nya buatku. Kalau Bukan kasih kering lautan,  Langit tak berbintang, burung tak berkicau. Kalau bukan kasih surga hanya c’rita. Tiada yang kurasa kalau bukan kasih.”  Yesus tahu apa yang akan terjadi dan Ia memberi teladan konkret tentang kasih yang sesungguhnya. Yohanes 3:16 menekankan, karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mau berkorban supaya semua orang beroleh hidup yang kekal.

Seorang dokter yang lahir dari keluarga miskin pernah mengalami pengalaman pahit, adiknya tak tertolong karena lambat ditangani dokter. Melalui kenyataan hidupnya, juga menyaksikan kesulitan yang dirasakan masyarakat sekitar yang miskin untuk berobat dan kekaguman pada ibunya sangat mengasihi orang-orang di sekitarnya, ia bertekad akan menjadi dokter. Ia selalu berdoa minta Tuhan bukakan jalan agar ia bisa sekolah ke Jerman. Tuhan tahu impian Lie, sebab itu setelah melalui berbagai perjuangan berat, mimpinya tercapai. Di Jerman Dr Lie Dharmawan sangat berprestasi, tapi ia kembali ke tanah air karena kasih terhadap orang tak mampu. Tuhan selalu meneguhkannya setiap kali berdoa. Salah satu proyek kemanusiaannya adalah mendirikan rumah sakit terapung. Bersama team mereka menjangkau masyarakat di daerah- daerah dan melakukan pelayanan di atas kapal, termasuk untuk operasi.

Kasih yang besar akan memotivasi seseorang berani berkorban bagi sesama tanpa memikirkan apa yang didapat setelah itu. Jika seseorang melakukan sesuatu karena sebuah motivasi tertentu, bukan karena kasih, seiring waktu perbuatannya akan teruji, karena Tuhan  maha tahu. Manusia yang didapati Tuhan merancangkan yang baik, akan menerima kasih dan setia (Amsal 14:22b).  Saat ini, apakah yang memotivasi segala perbuatan baik kita? Tuhan melihat jauh ke lubuk hati manusia. Sebagaimana kasih yang memotivasi perbuatan kita, oleh kasih-Nya juga Tuhan memberkati tiap jerih payah kita. (lr)

DOA: “Tuhan, jamahlah hidupku selalu agar kasih yang tulus memotivasiku untuk melakukan pekerjaan-Mu. Aku tahu keberhasilan yang Kauberikan tak lepas dari kemurnian hatiku. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2qDwx2o

Usia Tak Bisa Dibohongi


Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. (Mazmur 90:10)

Firman Tuhan menegaskan bahwa usia manusia semakin tua akan semakin merosot kondisinya dan akan banyak mengalami kesukaran dan penderitaan. Usia manusia tidak bisa dibohongi dengan segala daya dan upaya agar tetap kelihatan muda. Secara sadar ataupun tidak, banyak orang sering melakukan penipuan pada diri sendiri dengan berbagai cara dalam mempertahankan kemudaan. Contohnya: agar tampak tidak tua, berupaya memoles rambut yang sudah putih menjadi hitam. Kulit keriput dioperasi sehingga kembali kencang, mengkonsumsi obat-obatan agar terlihat segar, muda, dan bermacam-macam usaha lainnya.

Pada umumnya manusia tidak suka bicara tentang penuaan, kematian, kefanaan. Manusia lebih suka bicara tentang umur panjang dan bagaimana mempertahankan tentang kehidupan, meski sadar ataupun tidak mereka adalah makhluk yang bisa meninggal satu saat nanti. Coba renungkan, berapa kali Anda sudah merayakan ulang tahun dan berapa kali pula Anda menghadiri perayaan ulang tahun orang lain? Dalam setiap perayaan pasti diperdengarkan lagu “panjang umurnya”, yang merupakan doa serta harapan manusia yang ingin kekekalan dengan diberi umur panjang. Tapi kalau mau jujur pada diri sendiri, setiap kali kita berulang tahun umur kita memang bertambah satu tetapi masa hidup semakin pendek.

Kita harus sadar bahwa umur panjang adalah saat kita menerima Kristus sebagai Juruselamat karena Dialah yang menjanjikan hidup kekal nanti (Yohanes 11:25), oleh sebab itu orientasikan hidup kita ini pada hal yang kekal dan bukan hal yang fana. Kita fokuskan kepada hal-hal yang membawa kita dekat kepada Sang pencipta, sehingga dalam perjalanan hidup yang singkat ini kita mampu menyenangkan hati Tuhan dan membuat Dia puas dengan kehidupan yang telah kita jalani dalam dunia ini.

Usia kita tidak dapat dibohongi, dan Firman Tuhan dalam Roma 13:14 menasihatkan, jangan merawat tubuh ini untuk memuaskan keinginannya, tapi hiduplah dalam Kristus sehingga kehidupan kita menjadi terang. (aa)

DOA: “Ajar aku untuk tidak lupa mengisi hidupku dengan hal-hal yang bersifat kekal, ya Tuhan, agar setua apapun usiaku, aku boleh tetap merasakan damai sejahtera-Mu. Amin.”

a

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2GZRD61

Mengenal yang Tuhan Mau


Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran. (Hosea 6:6)

Kasih setia adalah sebuah perbuatan mengasihi karena seseorang setia kepada orang yang dikasihinya. Dengan kata lain, kasih setia adalah sebuah kesetiaan yang dilandaskan pada kasih. Ada banyak orang yang mengasihi pasangan hidupnya, pacarnya atau keluarganya, tetapi mereka tidak setia kepadanya. Seringkali ketidaksetiaan itu nampak lewat perilaku berupa perselingkuhan, ketidakjujuran dalam perkataannya, bahkan dengan perbuatan membohongi dan menipu mereka. Hal itu tidak baik, bukan?

Kasih setia adalah perbuatan yang dikehendaki oleh Tuhan. Ayat di atas menegaskan bahwa Tuhan menyukai kasih setia, lebih dari korban sembelihan. Yang dimaksud adalah persembahan berupa materi yang kita berikan kepada Tuhan, apakah itu berupa uang atau benda-benda lainnya. Bagian selanjutnya dari ayat itu merupakan pengulangan yang lebih menegaskan lagi. Tuhan mau agar kita memiliki pengenalan akan Dia, lebih daripada korban-korban bakaran berupa binatang yang dipersembahkan oleh umat Tuhan pada zaman dulu.

Kasih setia adalah salah satu sifat Tuhan yang tidak dapat berubah atau menjadi berubah. Kasih setia-Nya kekal dari dahulu sampai selama-lamanya. Tuhan juga menghendaki agar umat-Nya, yaitu anak-anak-Nya juga memiliki sifat yang demikian. Kadangkala sifat ini disebut  dengan karakter kesetiaan seseorang. Di mata Tuhan, kasih setia jauh lebih tinggi nilainya dibandingkan persembahan materi yang kita berikan kepada Tuhan.

Di tengah dunia yang telah banyak kehilangan kasih setia ini, marilah kita kembali kepada Tuhan dan mengenal apa yang Dia sukai. Mulailah dengan paradigma dan pola pikir yang baru, yaitu menyenangkan Tuhan bukan dengan persembahan materi semata, tetapi juga dengan hati yang penuh dengan kasih setia. Pengenalan akan Allah dapat kita peroleh lewat membaca Alkitab dan oleh bimbingan dari Roh Kudus, lewat pengalaman hidup dan masalah yang kita hadapi setiap saat. Tuhan mau hadir dalam hidup kita dan memberikan kerinduan untuk mengenal Dia. Kenalilah kasih setia-Nya. (phm)

DOA: “Ampunilah bila selama ini aku hanya menunjukkan kasihku lewat korban pemberian secara materi. Tolongku untuk memiliki kasih setia lewat pengenalan akan Engkau, Tuhan, Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2qxgd36

Bijaklah, Jangan Boroskan


Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memboroskannya. (Amsal 21:20)

Negara penghasil minyak bisa menaikkan ekonomi dengan minyaknya. Tetapi bila negara itu memboroskannya, minyak itu akan habis juga. Sebab itu, bijaklah. Tak sedikit orang pandai yang tidak bijak. Tapi orang yang bijak, sedikitnya dia pasti punya kepandaian dalam hal tertentu.

Keluarga Elimelekh dalam Rut 1:1-20 bisa menjadi contoh keluarga yang tidak bijak. Waktu mereka pindah ke Bethlehem untuk menghindar dari kelaparan, mereka pergi begitu saja tanpa bertanya dulu kepada Tuhan. Akhirnya, segalanya habis percuma. Bukankah dewasa ini pun tidak sedikit rumah tangga yang gelisah dan ribut kerena masalah ekonomi? Padahal Yesus punya jawabannya. Datang saja pada Yesus!

Pelayanan pertama saya di Surabaya penuh dengan doa. Sebagai contoh, setelah makan siang kami tidak pergi tidur, tetapi doa pribadi hingga pukul 16.00, yaitu menjelang pelayanan kembali di sore atau malam harinya. Inilah dasar yang membuat ketika saya ditugaskan di Bandung, saat menghadapi ancaman dari pihak luar, saya sanggup bertahan dengan doa. Padahal saya juga sering tergoda untuk pulang ke kota kelahiran saya, Jakarta, tempat segalanya tersedia dengan mudah bagi saya. Tetapi Tuhan menolong saya untuk melihat kuasa-Nya memulihkan gereja-Nya.

Saudara, saya berharap keluarga kita tidak kekurangan minyak (Roh). Mintalah terus kepenuhan Roh Kudus dalam doa-doa kita, sebab dari kepenuhan-Nyalah kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia (Yohanes 1:16). Dengan kasih karunia itulah kita dimampukan untuk melangkah melewati setiap persoalan. Sayang, banyak yang puas dengan sedikit kasih karunia, lalu pergi dengan memboroskannya dalam kesibukan bisnis atau hal lainnya. Lupa untuk kembali datang lagi dan lagi kepada Yesus serta meminta untuk dipenuhkan lagi oleh Roh-Nya. Akhirnya, minyak itu pun habis dan kita menjadi gelisah, ribut satu dengan yang lain, padahal jawabannya ada pada Yesus. Bijaklah! Jangan boroskan minyak Anda, sebaliknya mintalah selalu kepenuhan-Nya. (tr)

DOA: “Ya Yesus, penuhkanlah aku dengan Roh Kudus-Mu setiap kali kudatang pada-Mu dalam doa-doaku, agar kudapatkan selalu kasih karunia-Mu yang memampukanku melewati setiap persoalan hidupku. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2GWJUpo