Dapat Dipercaya


Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman. Amsal  28:20

Saya mengenal seorang pemimpin sebuah organisasi sosial. Beliau adalah seorang yang saya hormati. Salah satu karakter utama beliau adalah tidak mudah lekas percaya orang.

Selidik punya selidik, ternyata itu akibat dari beberapa orang yang tadinya diberi kepercayaan kemudian mengecewakan. Ada yang memanfaatkan kepercayaan beliau untuk kepentingan pribadi, ada pula yang kemudian didapati tidak dapat pegang rahasia. Tidak mudah menjadi orang kepercayaan. Salah satu syarat untuk menjadi orang kepercayaan adalah dapat dipercaya. Dapat dipercaya berarti tahu pegang rahasia dan bertanggung jawab. 

Dalam relasi antara pemimpin dan bawahan karakter ini sangat dibutuhkan. Seorang pemimpin pasti senang bila staffnya dapat dipercaya. Saya sama sekali tidak heran bila seorang staff yang memiliki karakter dapat dipercaya kemudian mendapatkan promosi kenaikan jabatan. Sebab pada kebanyakan pemimpin kepintaran adalah nomor dua tetapi dapat dipercaya adalah mutlak.

Anda mungkin bertanya, “Apakah itu berarti saya harus simpan keburukan para pemimpin saya agar saya dapat dipercaya?” Jawaban saya, “Ya! Anda perlu simpan keburukan pemimpin Anda dari orang lain, tetapi tidak dari Tuhan.” Ceritakan pada Tuhan, doakan pemimpin Anda, bila ada peluang diskusikan dengan pemimpin Anda. Bukan diskusikan keburukan para pemimpin di level Anda. Sebab bila itu dilakukan, itu sama saja dengan gossip.

Ketika Anda menjauhkan diri dari pergunjingan rekan-rekan tentang keburukan pemimpin Anda, orang mungkin saja menuduh Anda cari muka, sok baik. Saran saya jangan hiraukan itu semua. Lakukan saja dengan iman ini: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Selebihnya setuju dengan Firman Tuhan berkat pun pasti mengalir ke arah Anda. (TW)

Doa: Tuhan Yesus berilah kepadaku telinga untuk mendengar dan mulut yang kelu untuk berkata-kata tentang keburukan orang lain, terlebih para pemimpin yang telah engkau tempatkan di atasku. Amin.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2HY9rtY

Iklan

Kesatuan


Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Yohanes 17:21

MAKSUD Yesus mati di Salib adalah untuk mendamaikan manusia dengan Bapa di Surga. Surat Paulus mengatakan Dia mendamaikan yang jauh dan dekat menjadi satu dalam diri-Nya. Dalam surat Korintus Ia mengatakan, kita menjadi utusan Tuhan seolah-olah dengan mulut kita, kita berkata: “Berdamailah dengan Allah!” (2Kor 5:18-20). Juga tidak ada Yahudi, atau Yunani, tidak ada hamba atau merdeka, tak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu dalam Yesus Kristus.(Gal 3:28)

MAZMUR berkata pula bahwa alangkah manis dan indahnya bila kita saudara bersaudara bisa hidup dengan rukun, bahkan Tuhan akan memerintahkan berkat kepada persatuan itu (Maz  133). Anehnya yang paling sukar dipersatukan justru orang Kristen. Sampai-sampai Yesus perlu berdoa agar umat-Nya menjadi satu sama seperti Dia dengan Bapa.(Yoh 17:21). Bahkan juga Paulus menulis di antara kamu pasti akan ada perpecahan, supaya nampak siapa yang tahan uji.(1Kor 11:9)

PELAJARAN yang kita bisa dapatkan adalah, walaupun satu ladang, gandum dan lalang tak dapat bersatu. Walau satu botol, air dan minyak tak dapat bersatu. Gelap dan terang tak dapat bersatu. Dosa dan doa tak akan bersatu. Utara dan selatan, hidup dan mati. Gereja yang benar dan yang palsu. Jemaat daging dan jemaat rohani tak akan dapat bersatu. Organisasi dan organisme adalah dua hal yang beda.

JADI kesatuan yang diminati Yesus adalah sama seperti Dia dengan Bapa. Orang kudus akan bergaul dengan orang kudus. Yang suka akan kejujuran bergaul dengan yang jujur. Ikan yang baik dikumpulkan dengan yang baik. Domba dipisahkan dari kambing. Ini akan dikerjakan oleh alat penampi(Mat 3:12), memisahkan gandum dari sekam. Gereja yang rohani akan dipisahkan dari gereja yang penuh kedagingan(catatan: daging tidak ada gunanya di depan Tuhan- Yoh 6:63). Firman Allah berkata, “Bukan oleh kuat dan gagah(daging) tapi oleh Roh Tuhan.”(Zakh 4:6).

NAH kita ada di kelompok mana? Bersatu dan bersatu ada dua macam. Persatuan yang dikerjakan oleh tangan manusia akan gagal. Tetapi bila kesatuan itu oleh karya Roh Kudus, itulah persatuan yang dihasilkan oleh karya Yesus di salib dan kamar loteng Yerusalem. Jadi, bersatulah, dengan catatan tidak asal bersatu. Bersatu kita teguh…!(JEA)

Doa: Tuhan, aku mau senantiasa bersekutu dengan sesama orang percaya. Amin.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2t3MCQX

Kebodohan Pilatus


Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.(Amsal 18:24)

Pengamatan Raja Salomo itu benar. Dari pengalaman kita masing-masing tentu banyak di antara kita yang pernah dikecewakan oleh teman, tetapi tentunya kita pun pernah merasakan kasih sayang yang besar dari teman kita. Mungkin anda mempunyai banyak kawan dalam pergaulan. Tetapi apakah semua kawan anda baik? Seorang mahasiswa psikologi, suatu kali mengatakan: “Kawan yang baik itu sulit dicari. Mencari pacar lebih mudah dari pada mencari seorang kawan yang sejati.” Anda bisa memutuskan hubungan dengan pacar anda hari ini, mungkin dua hari lagi anda bisa mendapatkan pacar yang baru. Tetapi bila hari ini anda memutuskan tali silaturahmi yang erat, belum tentu lima tahun lagi anda menemukan seorang teman yang baik. “ …, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib.” (Amsal 16:28).

Dalam sejarah Perancis, Madame de Pompadour tercatat sebagai permaisuri raja yang lebih mengutamakan kawan-kawannya daripada rakyatnya. Wanita yang sebelum diperistri Sang Raja, bernama: Jeanne Antoinette Poisson, lahir di Paris tahun 1721. Tatkala berumur 24 tahun, Raja Louis XV melihatnya dalam pesta dansa, tergiur kecantikannya, langsung jatuh cinta dan mengawininya. Selama 20 tahun Madame de Pompadour banyak ikut campur dalam kebijakan pemerintah Perancis. Ia bersikeras agar kawan-kawannya diberikan kedudukan penting dalam pemerintahan, walaupun mereka tidak cocok dengan bidang pekerjaan yang harus dijalankan. Madame de Pompadour tidak disukai rakyatnya karena telah mengorbankan kepentingan banyak orang demi kawan-kawannya. Kita memang perlu memperhatikan kawan-kawan kita, tetapi sangatlah tidak bijaksana kalau demi kawan-kawan kita itu, lalu mengabaikan kepentingan banyak orang.

Kita tak perlu takut dan gentar dikecam semua teman-teman kita, asal apa yang kita buat itu benar. Ketika Pontius Pilatus berupaya membebaskan Yesus dari segala tuduhan, orang-orang Yahudi berteriak: “Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar.” (Yohanes 19:12). Mendengar itu, Pilatus berubah pikiran. Demi kawan, yaitu Kaisar, ia membiarkan Yesus yang tidak bersalah itu disalibkan. Bukankah ini sebagai kebodohan Pilatus?(nvdk)

BEKERJA sama dengan orang lain memang sulit, tapi hal itu bukan tidak mungkin.   * Peter Drucker

Doa: Mampukanlah aku ya Tuhan, untuk menjadi teman yang baik tanpa harus mengorbankan kepentingan yang lebih besar. Amin.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2JFdnFD

Melepaskan Apa Yang Digenggam


“Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.” Kejadian 22:9-10

Apa yang Abraham lakukan sangatlah sulit untuk diikuti. Anak yang diperoleh sebagai penggenapan janji Tuhan selama puluhan tahun, sekarang harus dipersembahkan kepada Tuhan! Tetapi ketika pisau di tangannya hampir menyembelih Ishak, Tuhan turun tangan! Saya percaya pada saat itu Ishak merasa sangat lega. Tetapi Abraham pasti merasa lebih lega.

Ketika Tuhan menghentikan tangan Abraham, sesungguhnya Ia berkata, “Engkau telah lulus ujian, sahabatKu. Engkau telah membuktikan bahwa imanmu telah mencapai kedewasaan penuh. Kerelaanmu untuk mengorbankan anak tunggalmu telah menunjukkan bahwa engkau lebih mengasihi Sang Pemberi, daripada pemberian-Nya.”

Saudara, hal apakah yang saat ini sedang engkau genggam dengan erat? Harta? Pekerjaan? Impian? Hubungan yang akrab? Tuhan mungkin sedang bekerja dalam dirimu untuk melepaskan semuanya itu. Mungkin pertama-tama Ia memberikan sentakan lembut untuk memberi engkau kesempatan untuk melepaskan genggamanmu.
Jika engkau menolak, Ia sendiri yang akan melepaskan jari-jari tanganmu yang menggenggam. Hal itu pasti akan menyakitkan, tetapi terimalah dengan sukarela. Percayalah bahwa Tuhan akan menyediakan. Ia memiliki domba di semak belukar. Mungkin sekarang engkau belum melihatnya, tetapi Ia telah menyediakannya. Engaku hanya akan menerimanya hanya setelah engkau meletakkan korbanmu di atas mezbah.

Ribuan tahun yang lalu Abraham mengajar anaknya tentang hal ini dengan sangat baik. Saya sering membayangkan, betapa berubahnya hubungan antara ayah dan anak setelah kejadian itu. Saya merasa yakin bahwa Abraham semakin menyayangi anaknya ketika mereka menuruni lereng gunung itu daripada ketika mereka mendakinya. Bukan karena ia hampir saja kehilangan anaknya, tetapi karena tindakannya rela melepaskan Ishak, Abraham mendapatkan kebebasan untuk semakin mengasihinya. Ishak pun pasti merasakan hal yang sama.

A.W. Tozer pernah menulis sebuah doa, kutipan isinya antara lain: “Bapa, aku ingin mengenalMu, namun hatiku yang pengecut ini takut untuk menyerahkan semua mainannya. Aku tidak bisa berpisah dengan semua itu tanpa melukai batinku…aku menjadi gemetar…tolong cabut dari dalam hatiku semua yang telah aku puja selama ini dan yang telah menjadi bagian dari diriku, sehingga Engkau bisa masuk dan berdiam di sana tanpa saingan. Dan bertahtalah di dalam hatiku dengan penuh kemuliaan…”

Bagaimana dengan saudara?(srs)

Doa: Tuhan Yesus, biarlah Engkau saja yang terutama dalam hidupku ini. Amin.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2l9g3MT

Menyadari Batas Kewenangan


“Raja Uzia sakit kusta sampai kepada hari matinya, dan sebagai orang yang sakit kusta ia tinggal dalam sebuah rumah pengasingan, karena ia dikucilkan dari rumah TUHAN. Dan Yotam, anaknya, mengepalai istana raja dan menjalankan pemerintahan atas rakyat negeri itu.” 2 Tawarikh 26:21

Reputasi Uzia yang mengesankan sebagai seorang raja yang kreatif, makmur dan kuat menyebar dengan cepat. Kerajaan-kerajaan yang ada di sekelilingnya gentar kepadanya dan mengaguminya. Rakyatnya memuja dan berikrar setia kepadanya dengan dikelilingi oleh berbagai macam keberhasilan, wajar rasanya jika orang berpikiran bahwa Uzia pantas mendapatkan pujian.

Hal itu pastilah ada dalam diri manusia. Bila orang-orang mengagumi seorang figur, mereka berpikir, “Wow, orang ini memang hebat!” Itu tidak salah. Bahayanya adalah bukan apa yang dipikirkan publik, tetapi apa yang dipikirkan oleh orang yang dikagumi. Begitu seseorang mulai memercayai bahwa perhatian ditujukan bagi dirinya, maka semua orang akan mengalami kesusahan.

Perhatikan dengan saksama kata pertama dalam ayat 16: “setelah…”. Dalam ayat 14-15 kita membaca tentang hal-hal hebat yang dilakukan Uzia dan bagaimana pertolongan yang ajaib dari Tuhan dialaminya. Tetapi ketika Uzia beranggapan bahwa ia telah menjadi kuat, segala sesuatu berubah. Didorong oleh rasa mementingkan dan bangga dengan diri sendiri, “…ia menjadi tinggi hati sehingga melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah ukupan.” (2 Taw. 26:16).

Semua yang dialaminya membuat Uzia menjadi sombong. Kesombongannya meyakinkan dirinya bahwa kedaulatan kekuasaannya mencakup bait Tuhan. Ia menganggap bahwa ia tidak membutuhkan para imam untuk memersembahkan korban kepada Tuhan. Ia orang yang hebat, ia dapat mempersembahkan korbannya sendiri kepada Tuhan tanpa melalui perantaraan para imam.

Karena dibutakan oleh kesombongannya, ia kehilangan kendali. Ia mengambil ukupan dan melangkah masuk ke tempat di mana seharusnya ia tidak boleh memasukinya. Ia melangkah jauh melampaui batas-batas kewenangannya. Ia tidak peduli dengan teguran para imam yang dipimpin imam Azarya, bahkan amarahnya meluap terhadap para imam itu.

Dan…Tuhan menulahinya dengan kusta yang harus dideritanya sampai hari matinya!!
Ingatlah bahwa keberhasilan, kemahsyuran ataupun kehebatan kita bukanlah jaminan bahwa kita bisa mengobrak-abrik aturan Tuhan atau batasan-batasan otoritas yang Tuhan tetapkan. Hormatilah itu dengan melakukan apa yang menjadi bagian kita saja, jangan melanggar aturan dan batasan Tuhan. Jangan sampai kita menjadi seperti Uzia.(srs)

Doa: Tuhan Yesus, ingatkanlah aku jika aku berubah menjadi sombong. Amin.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2t1ZGq3

Mengandalkan Tuhan


Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! (Yeremia 17:7)

Apakah  yang  dimaksud dengan  orang  yang  mengandalkan Tuhan? Dalam Alkitab bahasa Indonesia terjemahan lama, kata mengandalkan Tuhan itu ditulis dengan kata “orang yang percaya kepada Tuhan”. Jadi mengandalkan Tuhan adalah percaya kepada Tuhan dengan sepenuh hati, bahwa Ia saja yang menjadi sumber pertolongan hidupnya, yang sanggup meluputkan seseorang dari semua masalah yang sedang dihadapinya.

Kita semua mengetahui bahwa dalam dunia ini banyak masalah yang datang silih berganti, karena dunia ini penuh dengan dosa dan kejahatan. Selalu ada hal yang dapat membuat kita menjadi lemah dan lesu, yang mendatangkan kesusahan dan penderitaan, sehingga membuat air mata kita tertumpah. Apakah masalah itu masalah keluarga, masalah ekonomi, masalah kesehatan, masalah dalam karir dan bisnis, atau masalah lainnya.

Namun dalam menghadapi semua masalah hidup itu, kita dapat mengandalkan Tuhan saja sebagai sumber pertolongan kita. Kita dapat menaruh kepercayaan dan harapan kita kepada-Nya, karena Ia sanggup untuk menolong dan memberikan jalan keluar atas setiap masalah hidup kita. Philip Yancey mengatakan: “Tidak mungkin mempunyai iman tanpa percaya. Tidak mungkin percaya tanpa memiliki iman. Mereka berjalan bersama-sama. Mereka berbeda satu sama lain, tetapi mereka terjalin dengan erat. Anda hanya dapat membuka iman jika Anda memilih untuk percaya, dan iman terus akan terbuka karena Anda terus percaya.”

Apakah yang saat ini menjadi andalan kita? Apakah itu kekuatan dan kehebatan kita? Apakah itu kekayaan dan kepintaran kita? Semua itu sia-sia karena tidak dapat menjadi andalan sepenuhnya. Perhatikan nasihat dari Raja Daud yang berkata: “Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya.” (Mazmur 146:5). Dalam menghadapi persoalan hidup apapun juga, andalkanlah Tuhan yang sanggup menolong, karena Dia Mahakuasa. Tetaplah percaya dan beriman kepada-Nya. Pertolongan akan diberikan pada waktu-Nya. (phm)

DOA: “Benar, Tuhan, hanya Engkau yang menjadi andalanku yang sejati. Tidak ada apapun yang mustahil bagi-Mu, karena Engkau Allah Yang Mahakuasa. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2sT7LNF

Utamakan Selamat


Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. (Yohanes 10:9)

Ketika sedang berkendara di jalan raya, kadang-kadang kita menemukan kendaraan atau tempat umum yang pada salah satu bagiannya terdapat tulisan atau slogan “Utamakan Selamat”. Slogan ini bahkan pernah dipakai untuk iklan salah satu produk biskuit beberapa tahun yang lampau. Tentu tujuan dari slogan ini adalah supaya kita berkendara dengan hati-hati sehingga selamat dan terhindar dari berbagai bentuk malapetaka atau kecelakaan.

Terlepas dari bagaimana manusia dipanggil Tuhan, apakah karena kecelakaan, sakit penyakit, usia lanjut, atau hal lain, -satu hal yang pasti adalah bahwa kita semua akan dipanggil Tuhan. Jadi selamat dalam satu perjalanan lalu lintas sebenarnya hanyalah menunda ‘tidak selamat’ dalam artian satu saat pasti meninggal juga. Karena itulah kita perlu jaminan keselamatan yang hakiki, bukan hanya selamat secara jasmani tapi terlebih keselamatan secara rohani.

Yesus Kristus adalah jaminan keselamatan itu. Sudah sangat jelas tertulis di Alkitab bahwa Yesus adalah Juruselamat yang mengatakan bahwa Dia adalah pintu menuju keselamatan kekal. Bagaikan domba yang masuk dan mendapatkan padang rumput, orang yang percaya pada Yesus akan mendapati surga.

Ketika membaca ayat kita hari ini, saya jadi teringat salah satu grup band papan atas yang pernah membawakan lagu “Pintu Surga”. Bait pertama lagu itu adalah: Pintu surga, pintu surga, dimana, engkau berada, bagaimana caranya, kita memasukinya? Seandainya mereka membaca ayat kita hari ini, maka mereka sudah menemukan jawaban pertanyaan mereka. Dan cara memasukinya pun sangat sederhana, yaitu dengan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Bagaimana dengan Saudara? Puji Tuhan jika Saudara sudah percaya sungguh kepada Tuhan Yesus Kristus, tapi jika masih bimbang atau kurang percaya, pelajari terus Alkitab disertai bimbingan dari seorang hamba Tuhan. Kiranya kita semua boleh merasakan kasih dan anugerah-Nya. Puji Tuhan! (ba)

DOA: “Terima kasih Tuhan karena Engkau begitu baik bagiku. Engkau rela datang ke dunia untuk membuat aku mengerti bahwa Engkaulah Juruselamat dunia. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2t0b2tz