Gembala Yang Setia


“Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena NamaNya. (Mzm 23: 1-3)

Barangkali saudara seringkali membaca dan mendengar Mazmur Gembala yang dikutip di atas. Mazmur Gembala memang seringkali disampaikan atau digunakan ketika ada jemaat yang mengalami pergumulan hidup yang berat, bahkan seringkali dibacakan dalam kebaktian penghiburan atau pemakaman anggota jemaat yang dipanggil Tuhan ke rumah Bapa di sorga.

Mazmur ini selain memberikan penghiburan karena kebaikan, pemeliharaan dan pimpinan dari Gembala Agung dalam kehidupan orang percaya, juga mengingatkan kita bahwa seperti domba-domba yang tidak berdaya, kita tidak dapat menjalani kehidupan ini tanpa penyertaan dan pimpinan Tuhan.

Ia sanggup untuk memelihara kita dengan tangan-Nya yang kuat dan penuh kasih, yang bersedia turun tangan menolong domba-domba-Nya yang sedang bermasalah, baik dalam masalah jasmani (perut lapar & haus), masalah kejiwaan (rasa takut & bimbang) atau masalah mental (kebanggaan & kehormatan) atau masalah lain apapun juga.

Menghadapi hari-hari di depan, apakah masalah yang saudara sedang hadapi? Tuhan Gembala yang Baik itu ada di sisi saudara dan bersedia untuk menolong jika saudara berseru kepada-Nya. Barangkali saudara telah berjalan di jalan yang salah sehingga terjatuh ke dalam jurang yang dalam sekalipun. Dia mau mengangkat dan menggendong saudara karena kasih setia-Nya.

Datanglah kepadaNya dan mintalah Dia untuk menolong setiap masalah hidup saudara. Tidak ada yang dapat disamakan seperti Dia, yang dapat saudara percayai. PertolonganNya selalu datang tepat pada waktunya. Haleluya. (PHM)

Doa: Ajarlah aku Tuhan untuk selalu berseru kepadamu sebagai Gembalaku yang baik. Tidak ada masalahku yang terlalu sukar bagiMu Biarlah pertolonganMu terjadi pada waktuMu dan sesuai dengan kehendakMu. Amin.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2NmHU8C

Iklan

Jangan Kuatir


”Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Matius 6:34)

Kalau kita perhatikan dengan seksama keadaan dunia dewasa ini, keadaannya sungguh lebih buruk dari waktu-waktu sebelumnya. Terlihat dengan jelas bahwa kejahatan bertambah-tambah, bencana alam tiada henti terjadi dan merenggut banyak jiwa, perekonomian tidak kunjung membaik, dan yang lebih membahayakan lagi ajaran-ajaran sesat bertambah merajalela dimana-mana.  Memang semua yang terjadi di muka bumi ini menunjukkan kebenaran Firman Tuhan terbukti. Seperti ada tertulis: ”Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dasyat dan diberbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal yang mengejutkan dan tanda-tanda dasyat dari langit.” (Lukas 21:10-11) Bukankah semuanya ini sedang digenapi?

Hal ini telah membuat banyak orang merasa takut dan kuatir. Tidak sedikit anak-anak Tuhan mengalami keadaan dan perasaan yang sama, ya, kuatir. Bagaimana dengan hari esok nanti, bagaimana dengan usahanya, bagaimana dengan pekerjaannya, bagaimana dengan keluarganya, bagaimana…bagaimana..bagaimana..????

Seringkali kita mencemaskan kesulitan dan keadaan tidak menyenangkan yang akan muncul esok hari. Kita lebih mencemaskan hari esok daripada menjalani  dan menikmati kemurahan yang telah disediakan Allah bagi kita pada hari ini. Jika anda mengakui Yesus Kristus sebagai Juru selamat, menyimpan dan mempercayai apa yang telah dikatakanNya dalam Matius 6:34, ”Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Ketika anda mengambil keputusan untuk percaya kepadaNya, maka Ia akan memberi ketenangan bagi jiwa anda, dan kedamaian dari Allah akan memenuhi hati dan pikiran anda. Nikmatilah berkat yang telah Allah sediakan bagi anda pada hari ini. Haleluyah..!(se)

Doa: Tuhan, ajar aku untuk tidak kuatir akan hari esok melainkan berterima kasih untuk anugerah dan berkat-berkat yang telah Engkau sediakan bagiku pada hari ini. Aku mau menikmatinya. Amin.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2NlD9MC

Mengampuni Dengan Tulus


”Sabarlah kamu terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuatlah juga demikian.” (Kolose 3:13)

Ketika masih duduk di bangku kelas 3 SMP, teman sekelas saya seorang wanita diketahui hamil diluar nikah. Atas inisiatip keluarga, ia berhenti sekolah. Mulanya pihak sekolah tidak mengetahui dengan pasti alasan orang tuanya memberhentikan anaknya. Karena ingin mendapatkan keterangan langsung dari orangtuanya, maka wali kelas beserta dengan kepala sekolah mendatangi orangtuanya. Setelah mendapatkan keterangan yang pasti dan alasan dari kedua orangtuanya, maka pihak sekolah bisa menerima keputusannya itu. Tidak banyak yang mengetahui peristiwa tersebut, hanya para guru dan beberapa teman dekatnya, termasuk saya. Secara pribadi terus terang saya tidak terlalu terkejut dengan kejadian itu, karena saya tahu betul bagaimana perilaku teman saya itu selama ini. Saya juga tahu betul, bagaimana orangtuanya kerapkali menegur bahkan sering marah-marah dengan sikap dan perilakunya itu.

Saya melihat wajah yang penuh penyesalan dari teman saya itu, karena selama ini ia tidak pernah mau mendengar nasihat dan teguran-teguran yang dialamatkan kepadanya, baik dari teman maupun orangtuanya sendiri. Sehingga ia harus menangung akibat perbuatannya. Memang sepertinya terlambat. Namun satu hal yang luar biasa, saya melihat bahwa kedua orangtuanya bisa menerima dan memaafkan semua kesalahan yang telah diperbuat oleh anaknya itu. Bahkan turut serta sibuk merawat janin yang ada di dalam kandungannya serta terus memberi semangat kepadanya agar tidak berputus asa dan tetap bisa memandang masa depannya. Ketika itu saya belum di dalam Tuhan, demikian juga dengan teman saya itu.

Saudaraku, jika orang yang di luar Kristus saja dapat melakukan hal ini, apalagi kita sebagai anak-anak Tuhan, seharusnya bisa melakukannya lebih baik lagi daripada mereka yang di luar Tuhan. Permasalahan anak-anak Tuhan akhir-akhir ini adalah kita sulit untuk menerima teguran ketika berada dalam posisi yang salah. Bahkan merasa berat untuk memaafkan dan menerima kembali orang yang telah menyakiti hati atau yang telah mengecewakan kita. Rasul Paulus tidak ragu-ragu untuk memuji orang-orang Kristen di Korintus yang menegur orang lain karena perbuatannya yang tidak bermoral (2 Korintus 2:6-7). Dan ketika orang tersebut menyesali dosa-dosanya, Paulus segera mendesak mereka untuk mengampuni dengan tulus. Bagaimana dengan kita?(se)

Doa: Tuhan, berikanlah aku hati seperti-Mu. Aku mau belajar mengampuni orang yang telah bersalah kepadaku, seperti Engkau telah mengampuniku. Amin

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2zEnohx

Mengandalkan Tuhan

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
 (Yeremia 17:7)

Apakah  yang  dimaksud dengan  orang  yang  mengandalkan Tuhan? Dalam Alkitab bahasa Indonesia terjemahan lama, kata mengandalkan Tuhan itu ditulis dengan kata “orang yang percaya kepada Tuhan”. Jadi mengandalkan Tuhan adalah percaya kepada Tuhan dengan sepenuh hati, bahwa Ia saja yang menjadi sumber pertolongan hidupnya, yang sanggup meluputkan seseorang dari semua masalah yang sedang dihadapinya.

Kita semua mengetahui bahwa dalam dunia ini banyak masalah yang datang silih berganti, karena dunia ini penuh dengan dosa dan kejahatan. Selalu ada hal yang dapat membuat kita menjadi lemah dan lesu, yang mendatangkan kesusahan dan penderitaan, sehingga membuat air mata kita tertumpah. Apakah masalah itu masalah keluarga, masalah ekonomi, masalah kesehatan, masalah dalam karir dan bisnis, atau masalah lainnya.

Namun dalam menghadapi semua masalah hidup itu, kita dapat mengandalkan Tuhan saja sebagai sumber pertolongan kita. Kita dapat menaruh kepercayaan dan harapan kita kepada-Nya, karena Ia sanggup untuk menolong dan memberikan jalan keluar atas setiap masalah hidup kita. Philip Yancey mengatakan: “Tidak mungkin mempunyai iman tanpa percaya. Tidak mungkin percaya tanpa memiliki iman. Mereka berjalan bersama-sama. Mereka berbeda satu sama lain, tetapi mereka terjalin dengan erat. Anda hanya dapat membuka iman jika Anda memilih untuk percaya, dan iman terus akan terbuka karena Anda terus percaya.”

Apakah yang saat ini menjadi andalan kita? Apakah itu kekuatan dan kehebatan kita? Apakah itu kekayaan dan kepintaran kita? Semua itu sia-sia karena tidak dapat menjadi andalan sepenuhnya. Perhatikan nasihat dari Raja Daud yang berkata: “Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya.” (Mazmur 146:5). Dalam menghadapi persoalan hidup apapun juga, andalkanlah Tuhan yang sanggup menolong, karena Dia Mahakuasa. Tetaplah percaya dan beriman kepada-Nya. Pertolongan akan diberikan pada waktu-Nya. (phm)

DOA: “Benar, Tuhan, hanya Engkau yang menjadi andalanku yang sejati. Tidak ada apapun yang mustahil bagi-Mu, karena Engkau Allah Yang Mahakuasa. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2KWUr5V

Iri Hati


Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Mazmur 37:3,4

Sebuah pertanyaan sederhana datang melalui email: “Pak kenapa kok jauh lebih sejahtera mereka yang berbuat dosa. Sebaliknya saya, semakin saya setia semakin jauh saya dari hidup sejahtera.” Pertanyaan ini pasti mewakili pertanyaan banyak orang ketika mereka sementara didera oleh berbagai macam masalah. Pertanyaan yang secara implisit menggambarkan sikap hati yang iri melihat “keberhasilan” orang berdosa.

Sikap hati yang demikian bila terus dipelihara akan menjadikan kita kecewa kepada Tuhan dan berakhir dengan kepahitan. Padahal kita sama tahu, Tuhan tidak pernah mendatangkan pertolongan kepada hati yang kecewa apalagi pahit. Ketahuilah, terlalu banyak informasi yang akan iblis coba tanamkan dalam hati kita agar kita terus tinggal dalam iri hati. “Coba lihat Pak A, karena ia tutup tokonya hari minggu, ia kehilangan pelanggan. Tetapi Pak B selain buka hari minggu, ia juga jual barang asli tapi palsu dan laku keras. Lain lagi Pak C, karena menolak kompromi ia terlempar dari posisinya di perusahaan.”  Iri hati sering membuat kita gelap mata dan akhirnya turut melakukan dosa demi mengejar kesenangan sementara.

Mazmur 37:3,4 dengan lugas memberitahukan cara kita dapat terlepas dari iri hati. Bila kita melakukan tepat seperti isi mazmur tersebut, Allah menjamin kita bukan hanya akan terlepas dari iri hati tetapi juga akan mendapatkan apa yang menjadi keinginan hati kita. Ada 4 hal yang harus kita lakukan sesuai Mazmur 37:3,4. Pertama, tetaplah percaya kepada Allah, jangan ragukan pemeliharaan-Nya. Kedua, lakukanlah yang baik dan yang berkenan kepada Allah dengan setia. Jangan turut melakukan kejahatan demi uang. Ketiga, berdiam diri dan tenangkan diri dengan tidak lagi mengizinkan informasi negatif masuk. Keempat, ucapkanlah syukur kepada Tuhan dengan penuh sukacita. Sekarang pilihan ada di tangan kita. Lakukan firman Allah dan terlepas dari iri hati. Atau justru kita hanyut dalam iri hati hingga hati terasa pahit.

Doa: Tuhan Yesus, aku bersedia lakukan firman-Mu. Aku mau terlepas dari iri hati dan dapatkan apa yang menjadi keinginan hatiku.  Amin.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2zKaO0a

Untuk Tuhan


Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)

Beberapa belas tahun yang lalu ketika saya dan rekan-rekan sedang dalam perjalanan untuk suatu misi pelayanan. Waktu itu cuaca sedang hujan. Saya melihat beberapa anak yang berusia kurang lebih 8-10 tahun. Tubuhnya basah, kedinginan dan gemetar. Mereka berjalan di antara mobil-mobil yang berhenti di lampu merah, sambil bernyanyi diiringi dengan tepukan tangan sebagai alat ‘musik’-nya. Kemudian menengadahkan tangan untuk meminta uang kepada si pengendara mobil. Beberapa pengemudi memberikan uang receh sementara yang lain mengusir dengan mengangkat tangan atau membunyikan klakson.

Setelah pulang dari pelayanan, pemandangan yang saya lihat dalam perjalanan tadi terus menggangu pikiran saya. Saya teringat akan masa lalu saya yang kelam. Yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan keadaan mereka. Sekalipun saya tidak sampai mengemis dengan cara seperti yang mereka lakukan. Tapi hidup saya saat itu juga lebih banyak ada di jalanan. Dan tidak ada seorangpun yang datang untuk melayani saya dan teman-teman jalanan saya waktu itu. Spontan, saya berteriak protes kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan, mengapa Engkau membiarkan ketidakadilan semacam ini terjadi? Bukankah Engkau mengasihi mereka? Lakukanlah sesuatu bagi mereka?” Namun, sepertinya Tuhan tidak menjawab apa-apa. Tetapi menjelang malam ketika saya hendak tidur, Firman Tuhan seperti datang kepada saya dengan lembut, “Aku sudah melakukan sesuatu. Kamu adalah saksiku, bahwa Aku sudah melakukannya untuk mereka.” Firman Tuhan yang datang itu benar-benar telah menyadarkan saya, akan satu hal, yaitu mengenai “peran” saya.

Yesus datang membawa terang ke dalam dunia yang gelap karena dosa. Dunia yang kejam dan penuh ketidakadilan. Tugas-Nya telah selesai dan kini tugas itu dilanjutkan kepada kita. Bagaimana dengan kita? Sering kita menemui orang-orang yang menderita tanpa kasih sayang, tanpa pernah merasakan kebaikan. Apakah kita telah menyatakan kasih dan kuasaNya yang mampu mengubah hidup manusia? Benar, kita tidak mungkin dapat mengatasi semua kesulitan yang ada di dalam dunia ini, tetapi kita dapat menjadi saksi tentang terang Kasih Tuhan dan membawa kemuliaan bagi Bapa (Mat 5:14-16). Lewat apa yang bisa kita lakukan bagi orang lain yang sangat membutuhkan kasih Bapa, yang mungkin bagi sebagian orang itu tidak begitu berarti. Tapi, yakinlah, hal itu sangat besar artinya di hadapan Bapa kita di sorga. Bersediakah saudara?(se)

Doa: Bapa, ampunilah aku jika selama ini aku kurang menyadari peranku sebagai alat kasih-Mu bagi sesama. Roh Kudus, mampukan aku untuk dapat melakukan apa yang seharusnya kulakukan bagi sesama. Amin.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2LhaWWg

Seratus Empat Puluh Kali


Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Lukas 18:7

“Chicken Soup for the Soul”, pernahkah anda membaca atau setidaknya mendengar tentang buku ini? Buku yang telah terjual lebih dari 112 juta buku, memiliki sekitar 200 judul dan telah diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa ini berisikan kisah-kisah hidup yang membangkitkan inspirasi dan motivasi. Buku yang disusun oleh Jack Canfield dan Mark Victor Hansen ini pertama kali diterbitkan tahun 1993. Tapi tahukah saudara, dibalik semua kesuksesan mereka sekarang ada proses yang harus mereka jalani terlebih dahulu? Ketika mereka menawarkan proposal penerbitan buku mereka ke penerbit, mereka harus menerima kenyataan pahit yaitu ditolak oleh lebih dari 140 penerbit sebelum akhirnya penerbit yang berlabel Health Communications, Inc. bersedia menerbitkannya.

Saudara terkasih, kisah di atas adalah kisah tentang karakter pantang menyerah yang dimiliki oleh Jack Canfield dan Mark Victor Hansen. Mereka mencoba tidak hanya beberapa kali, tapi lebih dari 140 kali dalam usaha menerbitkan buku mereka. Karakter pantang menyerah ini seharusnya juga ada dalam kehidupan kita.

Bukankah Alkitab menuliskan bahwa Yesus mengajar kita supaya kita tidak mudah putus asa? Dalam Lukas 18:1-8, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang janda yang tanpa kenal lelah terus datang meminta keadilan pada seorang hakim yang lalim. Yesus berkata bahwa jika seorang hakim yang lalim dapat memenuhi permintaan janda yang pantang menyerah ini, apalagi Allah terhadap orang-orang yang berseru kepada-Nya siang dan malam.

Saudara terkasih, mungkin engkau saat ini sedang bergumul atas suatu hal entah itu mendoakan jiwa untuk dimenangkan, kondisi rumah tangga, mencari pasangan hidup atau engkau sedang melamar pekerjaan untuk kesekian kalinya, ingatlah firman Tuhan mengajar kita untuk terus berdoa, terus berusaha dan pantang menyerah atas pergumulan hidup ini. Tuhan memberkati!(ba)

Doa: Tuhan yang baik, aku mau menuruti ajaran-Mu untuk tidak mudah menyerah. Aku akan terus berdoa dan berusaha atas pergumulanku saat ini. Amin.

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2KRhr62