Tabur Dan Tuai

Posted On Desember 17, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response


Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.  (1 Yohanes 3:3)

Ketika seseorang menabur benih, maka apa yang ditaburkan hari ini akan menentukan jenis buah yang akan dituai esok. Kalau apa yang ditabur dalam daging, seperti kebencian, iri hati, sakit hati dan sebagainya, maka pasti yang akan dituai adalah kebinasaan. Namun begitu juga sebaliknya, jika yang ditabur dalam Roh, seperti kasih, sukacita, murah hati, sabar dan sebagainya maka yang akan dituai adalah kehidupan kekal, seperti firman Tuhan tertulis dalam Galatia 6:7,10; Mazmur 126:5,6).
Contoh yang dapat kita lihat adalah Saul. Sebagai raja atas Israel, Allah telah mengurapinya melalui Samuel (1 Samuel 15:1). Namun pada waktu  Raja Saul mengutus Daud mengalahkan Goliat sebagai musuh yang sangat ditakuti  dan Daud menang dalam pertempuran itu, hati Saul panas. Ia merasa iri mendengar rakyat mengelukan kemenangan Daud, melebihi pujian mereka terhadapnya sebagai raja. Kedengkian muncul di hati Saul terhadap Daud. Beberapa kali ia coba membinasakan Daud, raja yang juga diurapi Allah. Pada akhirnya, Saul pun mati bukan sebagai kesatria karena ia mati bunuh diri.

Raja Ahab dan Ratu Izebel pun mengalami nasib yang lebih mengenaskan. Elia telah menunjukkan kemahakuasaan Allah dan membunuh nabi-nabi Baal kepercayaan mereka. Kenyataan ini menimbulkan kebencian di hati mereka sehingga mereka bermaksud membunuh Nabi Elia. Akibat kebencian terhadap nabi Allah itu, keluarga mereka mati mengenaskan. Ahab terbunuh oleh pedang lawan dan darahnya dijilati anjing. Sedangkan isterinya Izebel, mati dijatuhkan musuh dari atas jendela rumah, mayatnya terinjak-injak dan tubuhnya dimakan anjing tepat seperti yang Tuhan firmankan kepada Elia.

Saudara, perhatikan benih-benih yang kita tabur dan jangan menganggap remeh benih yang kita tabur, karena tuaiannya berdampak besar dalam hidup kita. Sekarang ini, menabur benih apakah kita? Pilihan ada di setiap kita! Pilihlah menabur benih dalam Roh Kudus, supaya buah yang kita tuai adalah kehidupan kekal. Tuhan Yesus akan memberkati kita melalui benih-benih yang berkenan kepada-Nya, yang sudah kita taburkan. (ymk)   
 
DOA: “Tuhan Yesus, mampukan aku untuk selalu menabur benih dalam Roh, sehingga hidup yang kekal merupakan tuaian yang aku terima dari-Mu. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2zhzlrn

Iklan

Semangat Semangat Semangat!

Posted On Desember 16, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response


Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah? (Amsal 18:14)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata semangat memiliki beberapa arti, dan salah satu arti yang tepat untuk ayat di atas adalah “nafsu” (kemauan, gairah) untuk bekerja, berjuang, dsb. Semangat ada dalam jiwa manusia, yang dapat berubah-ubah. Semangat dapat mempengaruhi tubuh untuk memiliki kemauan atau gairah untuk berkarya atau mencapai sesuatu yang dikehendaki dan dicita-citakannya, atau bahkan sebaliknya.
Demikian juga dengan hidup kekristenan kita, ada kalanya semangat untuk mengiring Tuhan atau melayani Tuhan sangat tinggi, tetapi ada kalanya semangat kita menjadi kendur atau melemah karena berbagai persoalan dan tantangan hidup yang kita hadapi. Kita mudah terpengaruh oleh keadaan di sekitar kita, sehingga semangat untuk beribadah, berdoa, membaca Firman dan merenungkannya, atau melayani sesama dengan perbuatan kasih kita menjadi kendur. Hal seperti itu juga dialami oleh murid-murid Tuhan Yesus.

Ketika Yesus ditangkap, murid-murid-Nya melarikan diri dan bersembunyi dari imam-imam kepala, para ahli Taurat, dan tua-tua bangsa Yahudi pada waktu itu (Markus 14: 50). Mereka merasa takut dan kehilangan semangat untuk mengikut Yesus lagi. Hanya Petrus yang masih mau menampakkan diri dan mengikuti Yesus dari jauh. Hal itu pun berujung pada penyangkalan dirinya, bahwa ia bukanlah salah seorang murid Yesus. Pada ayat tersebut dikatakan bahwa orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya. Hal itu misalnya kita jumpai pada orang yang sedang jatuh cinta. Ia akan tetap semangat untuk bertemu kekasihnya, walau ada rintangan dalam perjalanannya bahkan walaupun sedang sakit, ia tetap berusaha untuk datang menjumpainya.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Raja Salomo. Orang yang patah semangat sulit untuk dipulihkan. Ia memerlukan waktu dan banyak pertolongan untuk mengembalikan semangat yang telah pudar. Salomo berkata, “Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya” (Amsal 25: 28). Oleh karena itu, jagalah agar semangat kita tidak menjadi pudar, tetapi tetap menyala-nyala untuk mengikut dan melayani Tuhan. (phm)

DOA: “Kuatkanlah oleh Roh-Mu, ya Tuhan, agar semangatku untuk mengikut dan melayani Engkau tidak menjadi kendur, tetapi tetap menyala-nyala. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2CBauys

Bukan Pertemuan Ibadah

Posted On Desember 15, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. (Ibrani 10:25)


Beberapa tahun lalu ketika masih tergabung di pelayanan media televisi, saya sering menerima pendapat lewat pelayanan doa melalui telepon seperti ini: “Pak, saya hari Minggu gak ke gereja mana-mana. Cukuplah bagi saya mengikuti program rohani Kristen di televisi. Kan ada pujian dan khotbahnya juga. Itu sama saja saya ke gereja.” Fenomena ini terasa janggal, tetapi bukan tidak mungkin jumlah mereka yang berpendapat seperti itu melebihi perkiraan kita.

Kita hanya dapat membuktikan apakah fenomena itu benar atau tidak bila kita kembali kepada Firman Tuhan. Argumen-argumen yang kita coba bangun dengan pikiran kita akan dengan mudah dapat dipatahkan oleh mereka yang menganggap apa yang mereka lakukan itu sudah tepat. Bila kita bercermin kepada Alkitab maka Ibrani 10:25 adalah jawabannya. Ibrani 10:25 menulis: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita…” Frasa ‘pertemuan-pertemuan ibadah’ dari teks aslinya bermakna “a gathering together in one place” atau berkumpul bersama dalam satu tempat. Jadi menyaksikan tayangan program rohani di televisi atau mendengarkan program rohani di radio tidak dapat disamakan dengan pergi ke gereja. Sebab baik menyaksikan di televisi maupun mendengarkan melalui radio, kita tidak sedang ada bersama di sebuah tempat. Mereka yang bersiaran ada di studio, kita ada di rumah masing-masing.

Marilah kita membiasakan diri untuk menghadiri pertemuan-pertemuan ibadah khususnya di gereja. Singkirkanlah semua alasan yang menghalangi kita untuk pergi beribadah. Dalam pertemuan ibadah, kita tidak hanya bersekutu dengan saudara-saudara seiman saja, melainkan juga bertemu dengan Tuhan Yesus (Matius 18:20). Alkitab juga memberitahukan kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Timotius 4:8). Ketika beribadah, kita duduk mendengarkan Firman Tuhan. Dari Firman Tuhan itu kita menemukan janji-janji Tuhan, baik
untuk hidup kita sekarang, juga untuk kehidupan kekal kita kelak di sorga. (tw)

DOA: “Tuhan, aku singkirkan semua hal yang merintangiku untuk datang beribadah di gereja. Aku ingin bertemu dengan-Mu lewat pemberitaan Firman. Amin.”


New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2AGJTm9

Mengikatkan Diri

Posted On Desember 14, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. (1 Korintus 6:17)


Seorang murid mengeluh kepada gurunya tentang sesuatu yang membelenggu hatinya. Mendengar keluh kesah sang murid, guru melontarkan satu pertanyaan kepada semua murid, “Siapakah yang bisa melepaskan kalung lonceng yang melingkar di leher harimau?” Semua hening, tak satu pun bisa menjawab. Kemudian guru melanjutkan perkataannya, “Yang bisa melepaskan, orang yang mengalungkan di leher harimau itu. Belenggu hanya bisa dilepaskan oleh diri sendiri yang telah membuatnya terbelenggu.”

Seorang konselor bisa menolong orang yang datang untuk konseling. Namun konselor tidak dapat menuntaskan masalah seseorang, jika yang bersangkutan sendiri tidak mau melakukan bagiannya, di mana hanya dirinya sendiri yang dapat melakukannya. Ibarat orang yang ingin merdeka dan tahu strategi perang, tapi tidak mau berperang. Perhatikan seorang yang datang kepada Yesus. Sudah banyak perintah Yesus yang ia lakukan, tapi ia merasa masih ada yang kurang dalam hidupnya. Setelah orang itu menanyakan tentang hidup yang kekal, Yesus menyuruhnya menjual harta benda miliknya dan membagikan hasilnya kepada yang membutuhkan. Hatinya terikat dengan hartanya, dan Yesus tahu itu. Nyatanya, mendengar ucapan Yesus, maka pergilah ia dengan sedih sebab hartanya banyak (Matius 19:16-22).    

Realita yang terjadi dalam hidup manusia, banyak orang yang mengeluh tentang keadaannya tapi tidak mau melepaskan hal-hal yang membelenggu hidupnya melainkan tetap mengikatkan diri. Ingin bahagia tapi tidak melepaskan kesedihan. Berkeinginan kuat untuk melupakan masa lalu, tapi masih saja terus mengingat. Ingin terbebas dari kekuatiran, tapi tidak berserah total kepada Tuhan. Ingin terbebas dari kebiasaan buruk, tak mau berhenti melakukan. Apa yang kita ikatkan akan mengikat kita.
  
Hari ini, adakah yang membelenggu hidup kita? Introspeksi diri. Jangan terus mengikatkan diri dengan perkara-perkara dunia yang membelenggu hidup kita. Tekad saja tidak cukup! Lepaskan hal-hal yang mengikat kita sampai kita bebas. Mintalah campur tangan Tuhan agar kita mampu melepaskannya. (lr)

DOA: “Tuhan Yesus, jika masih ada hal-hal yang mengikat diriku sehingga hidupku terbelenggu, berikan aku kekuatan untuk melepaskannya. Aku mau mengikat hidupku hanya pada-Mu. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2BjcEFc

Penderitaan Sekarang Ini

Posted On Desember 13, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. (Roma 8:18)


Proses penggenapan janji-janji Allah kepada kita yang adalah anak Allah, bukanlah proses yang terasa nyaman dan mudah. Prosesnya ternyata melibatkan banyak penderitaan di zaman sekarang ini. Lantas, apakah tujuan dan manfaat dari penderitaan yang harus kita alami bersama Kristus di masa sekarang?

Penderitaan ada supaya kita dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. Firman Tuhan memberi jaminan bahwa kita pasti menerima seluruh kepenuhan janji-janji Allah, hanya jika kita telah lulus dari ujian proses penderitaan bersama-sama dengan Dia (Roma 8:17).

Selanjutnya, proses penderitaan itu tetap menjaga pengharapan kita untuk masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah (Roma 8:21). Jika prosesnya menimbulkan rasa nyaman dan mudah, kita juga mudah terlena dan terjatuh ke dalam berbagai pencobaan. Justru melalui proses penderitaanlah, kita belajar bertekun untuk menantikan pengharapan kita menjadi kenyataan. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan (Roma 8:24).

Dalam menjalani proses penderitaan itu pulalah, Roh Allah membantu kita dalam kelemahan kita. Saat kita tidak tahu lagi apa yang harus didoakan karena begitu pahit dan kerasnya penderitaan yang kita alami, firman Allah menegaskan bahwa pada saat itulah Roh Allah sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan (Roma 8:26).

Sahabat, jika Allah izinkan kita lewati penderitaan dan segala prosesnya, Ia punya maksud baik. Seperti dalam Roma 8:28 tertulis, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Setelah melewati proses yang Allah izinkan terjadi, kita akan terima janji Tuhan. (gs)

DOA: “Berikan aku kekuatan ya, Tuhan, dalam melalui penderitaan yang Kau perkenankan, untuk aku dapat menerima setiap janji-Mu. Amin. ”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2yjyIcV

Buah Busuk

Posted On Desember 12, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. (1 Korintus 15:33)


Pernahkah saudara menyimpan buah-buahan seperti duku, salak, dan lain-lain. Jika pernah, pasti saudara mengerti kalau ada satu saja buah yang busuk disimpan bersama yang lain dalam satu tempat, maka sebentar saja semuanya ikut menjadi busuk.

Supaya buah-buahan yang disimpan lebih awet kesegarannya, harus dilakukan langkah memilih buah yang busuk dan kondisinya tidak baik lalu memisahkannya atau membuangnya. Dengan langkah ini buah-buah yang disimpan akan lebih lama bertahan dan tidak cepat busuk.

Rasul Paulus menasihatkan esensi yang sama dalam hal pergaulan. Dalam ayat emas hari dikatakan bahwa pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sama seperti buah yang busuk, pergaulan atau gaya hidup yang tidak baik juga cepat sekali menular pada orang lain.

Lebih khusus Rasul Paulus menekankan adanya pandangan-pandangan atau kepercayaan yang mempertanyakan akan kebangkitan Tuhan Yesus. Jika selama ini umat Kristiani percaya akan kebangkitan Yesus, adanya pandangan itu akan memengaruhi dan bahkan bisa merusak iman orang-orang percaya.

Karena itulah Rasul Paulus mengingatkan supaya umat percaya berhati-hati dan tidak mudah dipengaruhi oleh pandangan-pandangan yang melenceng dari firman Tuhan, serta mendorong umat percaya untuk berdiri teguh, tidak goyah, dan giat dalam dalam pekerjaan Tuhan. Karena persekutuan dengan Tuhan tidaklah sia-sia.

Berhati-hatilah bergaul, jangan sampai kebiasaan yang baik dan iman yang teguh dirusakkan oleh pergaulan yang buruk dan kepercayaan yang tidak sesuai firman Tuhan. (ba)

DOA: “Tuhan, tolong aku berhati-hati dalam bergaul supaya imanku kepada-Mu tidak goyah tetapi makin hari makin bertambah kuat. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2nMYJS2

Tertekan Namun Tetap Berharap

Posted On Desember 11, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku. Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi. (Ratapan 3:20-23a)

Jika dalam perjalanan hidup kita semuanya berjalan dengan baik, tanpa halangan berarti, kita akan begitu gampang berkata: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya”. Namun mampukah kita berkata demikian saat kesesakan dan penderitaan datang kepada kita?

Nabi Yeremia sangat tertekan dengan keadaan dan melihat lima kenyataan yang ada. Yerusalem runtuh dan sangat sunyi sekali (pasal 1), murka Allah kepada Sion (pasal 2), bangsa tercerai berai serta dibuang ke Babel, rakyat menderita sengsara dan bangsa pilihan Allah telah menjadi bahan ejekan bangsa-bangsa lain. Tetapi dalam kondisi yang tertekan, Yeremia tetap berharap kepada Tuhan dengan iman yang terarah kepada kasih setia-Nya yang besar. Sang Nabi tetap percaya kepada kasih dan rahmat Allah yang tidak pernah habis dalam kehidupannya bahkan selalu baru setiap pagi. Ia tetap percaya pada kuasa Tuhan yang dahsyat, walaupun dalam keadaan tertekan.

Mungkin saat ini Anda sedang dalam tekanan yang berat karena perjuangan hidup yang berat, atau persoalan pekerjaan, masalah rumah tangga dan seolah-olah tidak ada harapan lagi buat Anda. Mari kita belajar dari Yeremia yang tetap berharap kepada kasih setia Tuhan yang luar biasa. Kasih setia Tuhan tidak pernah habis-habisnya bagi orang yang selalu berharap kepada-Nya. Hal itu juga yang akan kita alami di sepanjang hari-hari yang akan dilewati
bila kita memandang dengan iman dan berharap kepada Tuhan.

Tanamkan dalam hidup kita bahwa dalam segala keadaan yang kita hadapi setiap hari, ketika Tuhan masih memberi kita nafas hidup maka kasih-Nya pun akan selalu nyata. Sebab itu firman Tuhan menekankan bahwa kasih setia Tuhan selalu baru bagi kita. Artinya kasih setia Tuhan tidak akan pernah habis bagi kita yang berharap kepada-Nya dan akan terus dilimpahkan, sehingga kita menikmati hari-hari yang penuh dengan sukacita dan damai sejahtera di dalam naungan-Nya. Dalam menghadapi setiap tekanan hidup, belajarlah untuk tidak larut, tetapi berbuat seperti nabi Yeremia, mengarahkan iman kepada kasih setia Tuhan yang tak ada habisnya. (aa)

DOA: “Aku akan mengingat kasih setia-Mu, Tuhan, sebab aku tahu dalam menghadapi setiap tekanan Engkau ada bersamaku, saat ku memandang-Mu tanpa ragu. Amin.”

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2kNxTYT

Janganlah gelisah hatimu

Posted On Desember 10, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Yohanes 14:1
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.”

Kita hidup dalam pengharapan. Tuhan Yesus yang memberi harapan itu. Dia yang berjanji. Dia yang menjamin. Dia yang berkuasa melakukan janji-Nya. Dia yang akan menggenapi janji-Nya bagi kita.

Oleh karena itu kita tidak ragu-ragu. Kita tak perlu sangsi akan janji-Nya. Bagi kita YA dan AMIN… yaa… itu sajalah ungkapan keyakinan kita terhadap janji-Nya.

Oleh sebab itu sungguh kita sangat menyambut perkataan Yesus yang berseru,
“……. percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku”
Itulah dasar dan alasan untuk kita tidak gelisah.

Bila kita tidak berpengharapan dan tidak sepenuhnya percaya kepada Yesus, maka perhatikanlah… kita akan gampang khawatir… kita akan mudah gelisah.

Seandainyapun dunia ini sepenuhnya milik kita;
• kita rasanya bebas pergi ke mana saja,
• kita tidak dihalangi untuk melakukan apa saja,
• kita berkuasa menyuruh siapa saja,
namun kita tidak bisa menghindar dari rasa gelisah dan khawatir.
Malah jangan-jangan kita semakin gelisah? Gelisah karena ternyata sulit mengatur dan mengelola dunia bulat ini. Apalagi kita sadari bahwa kitapun pada waktunya akan melepaskan dunia ini juga karena memang ada batasnya… ada batas usia salah satunya.

Sekalipun kita memiliki kecil dan sedikit saja, tetapi kalau Yesus beserta kita, kita bisa menikmatinya dengan rasa bahagia.

Mengapa?

Sebab Dia jaminan kita, kita ada di hati-Nya… ohh… indahnya hidup ini… dan nanti di SANA lebih indah lagi… Pasti !, sebab ini janji-Nya.

Oleh sebab itu dengan bulat hati dan dengan yakin, marilah percaya sepenuhnya kepada Tuhan Yesus Kristus yang berkata, “Janganlah gelisah hatimu;…….”
PUJI TUHAN…!

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2kMHUFD

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu

Posted On Desember 9, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Roma 8:28 
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Waspada, masa bodoh atau cuek, takut plus kuatir, menghadapi masa depan sangat berpengaruh atas seluruh perjalanan hidup kita.

Ketakutan seringkali membuat hidup menjadi sangat sulit, jadi bukan situasi dan keadaannya yang membuat sulit, tetapi rasa takut dan kuatirlah yang membangun kesulitan kita.

Masa bodoh atau cuek tipe ini masih lebih mendingan ketimbang orang yang selalu ketakutan dan kuatir, kebanyakan orang model begitu tidak pernah ngoyok dan akhirnya  mudah mapan.

Tipe ketiga ialah orang yang waspada, kehidupannya  dijalani dengan penuh tanggung jawab dan hati hati, tidak serampangan.

Lukas 14:28  Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2iH7R5d

WAKTU BAGI ALLAH

Posted On Desember 8, 2017

Filed under Renungan
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

Mazmur 119:105
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku”

Harry A. Ironside (1876-1951) adalah salah seorang pengajar Alkitab yang paling berhasil dan paling disukai pada awal abad ke-20. Menurut penuturan teman dekatnya, Ironside selalu memulai setiap harinya dengan mendalami Alkitab dan berdoa. Ia menyebut waktu itu sebagai “kesiagaannya di pagi hari” dan merupakan bagian terpenting dalam setiap harinya.

Suatu hari, ketika Ironside sedang mengajar di sebuah seminari, seorang murid menghampirinya dan berkata, “Dr. Ironside, saya tahu Anda selalu bangun pagi untuk membaca dan mempelajari Alkitab setiap hari.”

“Oh, saya telah melakukannya sejak menjadi orang kristiani,” jawabnya.

“Bagaimana Anda dapat terus melakukannya?” tanya si murid. “Apakah Anda berdoa untuk hal itu?”

“Tidak,” kata Ironside. “Saya hanya selalu bangun pagi.”

Ironside tahu bahwa kehidupan rohaninya bergantung pada waktu khusus yang ia luangkan untuk mempelajari firman Allah. Ia tak perlu bertanya kepada Allah apakah ia mesti melakukannya, atau meminta hasrat dari-Nya untuk melakukan hal itu. Ia sadar bahwa disiplin ini adalah kebutuhan mutlaknya agar dapat mengembangkan kehidupan rohani dan pengaruhnya kepada orang lain. Ia tak dapat hidup jika tak melakukannya.

Pemazmur menulis, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105). Sadarkah kita bahwa kita sangat memerlukan terang firman Allah setiap hari? Adakah kita mengembangkan kebiasaan membaca Alkitab secara teratur?

BUKALAH ALKITAB DENGAN DOA,
BACALAH DENGAN SAKSAMA,
TAATILAH DENGAN SUKACITA

Semangat Pagi dan Selamat Beraktivitas, God Bless

New seven Generation's artikel

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’http://bit.ly/2eGs8ZY’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-6637981-18’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

from Blogger http://bit.ly/2ADtOfJ

Laman Berikutnya »